TeknologiBerita

Tren Phishing Global dan Ancaman Keamanan Siber di LinkedIn

20
×

Tren Phishing Global dan Ancaman Keamanan Siber di LinkedIn

Sebarkan artikel ini
Tren Phishing Global dan Ancaman Keamanan Siber di LinkedIn
Tren Phishing Global dan Ancaman Keamanan Siber di LinkedIn
78 / 100 Skor SEO

Tren Phishing Global dan Ancaman Keamanan Siber di LinkedIn

XJABAR – Phishing di LinkedIn menjadi contoh nyata bagaimana kejahatan siber terus berevolusi mengikuti pola perilaku pengguna internet global. Serangan terbaru yang memanfaatkan komentar dan balasan palsu di platform profesional ini menegaskan bahwa phishing tidak lagi terbatas pada email atau pesan pribadi, melainkan telah merambah ruang publik digital yang selama ini dianggap lebih aman.

Fenomena ini sejalan dengan tren global keamanan siber, di mana penyerang semakin mengandalkan rekayasa sosial dan eksploitasi kepercayaan pengguna terhadap platform besar dan bereputasi.

Evolusi Phishing di Era Media Sosial

Dalam beberapa tahun terakhir, phishing mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya email phishing menjadi metode dominan, kini pelaku mulai memanfaatkan media sosial dan platform profesional sebagai medium utama.

LinkedIn, dengan citra profesional dan basis pengguna yang didominasi pekerja, pebisnis, serta pengambil keputusan, menjadi target yang sangat menarik. Bagi pelaku kejahatan siber, satu akun LinkedIn yang berhasil diambil alih dapat membuka akses ke jaringan bisnis, data sensitif, hingga peluang penipuan lanjutan.

Komentar publik dipilih karena memiliki jangkauan luas dan terlihat lebih kredibel. Ketika sebuah peringatan muncul di kolom komentar, banyak pengguna menganggapnya sebagai bagian dari sistem moderasi atau keamanan platform.

Pemanfaatan Infrastruktur Resmi untuk Serangan

Salah satu aspek paling berbahaya dari kampanye phishing ini adalah penyalahgunaan infrastruktur resmi, seperti layanan pemendek URL LinkedIn, lnkd.in. Dalam konteks keamanan siber global, praktik ini dikenal sebagai “living off the land”, yaitu memanfaatkan alat sah untuk tujuan jahat.

Dengan menggunakan infrastruktur resmi, pelaku dapat menghindari sistem penyaringan otomatis dan meningkatkan tingkat keberhasilan serangan. Tren serupa juga terlihat di platform lain, di mana penyerang memanfaatkan layanan cloud populer, domain terpercaya, atau API resmi untuk menyamarkan aktivitas berbahaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *