BANDUNG, XJABAR.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak para insinyur di Indonesia untuk bekerja berdasarkan kode etik serta mengandalkan keahlian engineering dalam menyelesaikan masalah harian warga, seperti kemacetan dan banjir.
Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi dalam acara 44th Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 44) yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Bandung, Selasa 20 Oktober 2026.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Dedi menyoroti pentingnya penataan transportasi publik. Ia menggagas peremajaan angkutan umum yang lebih ramah lingkungan, ramah anak, serta ramah ibu hamil, sekaligus menjamin kesejahteraan para pengemudi.
Selain itu, Dedi menekankan pentingnya akuntabilitas profesi insinyur yang disamakannya dengan dunia kedokteran. Ia mendorong PII memperkuat peran dewan etik untuk menjatuhkan sanksi—termasuk blacklist—bagi engineer yang melakukan kesalahan perencanaan akibat melanggar kode etik.
“Ke depan, PII akan memperkuat pengaruh etik agar orang bekerja berlandaskan tiga hal: demi ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan,” tegas Gubernur Dedi Mulyadi.
Sementara, Ketua Umum PII Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Pihaknya berencana mentransformasi transportasi publik menuju elektrifikasi yang berkelanjutan, di mana para pengemudi angkot nantinya akan diberdayakan layaknya pengelola Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mandiri. (*)





