BANDUNG BARAT, XJABAR.COM — Peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober tidak lagi sekadar menjadi ajang seremonial atau mengenang sejarah perjuangan kemerdekaan. Di era modern, tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia, termasuk kalangan santri—telah bergeser ke arah krisis lingkungan hidup, mulai dari pencemaran sungai, kerusakan hutan, hingga perubahan iklim.
Hal tersebut ditegaskan Inisiator Pangauban Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING), Haris Bunyamin. “Krisis ekologis bukan sekadar masalah teknis, melainkan persoalan moral, sosial, hingga spiritual yang menuntut keterlibatan aktif pesantren,” ucapnya.
Dalam perspektif Islam, manusia mengemban amanah sebagai khalifah fil ardi (pemimpin di bumi) yang bertugas memakmurkan, bukan merusak. Oleh karena itu, makna kesalehan saat ini harus diperluas; tidak hanya taat dalam ibadah individual, tetapi juga peduli terhadap kelestarian alam melalui aksi nyata seperti menjaga mata air, merawat pohon, dan mengelola sampah.
Melalui program Pesantren Hijau (Green Pesantren), pesantren dinilai memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi pusat transformasi ekologis. Potensi ini dapat diwujudkan melalui Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, Penerapan model pertanian berkelanjutan, Penghijauan dan konservasi air, dan Pemanfaatan energi terbarukan
Gerakan pelestarian lingkungan ini juga diperkuat dengan memadukan ajaran agama, sains modern, serta kearifan lokal. Salah satunya adalah penerapan falsafah Sunda leuweung kaian, gawir awian, lebak caian, yang selaras dengan prinsip keseimbangan (mizan) dan kemaslahatan dalam Islam.
Haris menyoroti pentingnya menjadikan kawasan seperti Waduk Saguling dan DAS Citarum sebagai ruang belajar bersama. Pemulihan ek lingkungan tentu tidak bisa berjalan sendiri, melainkan butuh kolaborasi pentahelix: pemerintah memperkuat pengawasan, dunia usaha menaati regulasi, akademisi menyediakan riset, dan pesantren menjadi motor penggerak masyarakat.
Melalui gerakan PAGER SAGULING, konsep Green Pesantren dirancang agar terukur dan berkelanjutan. Keberhasilannya dinilai dari indikator riil, seperti tingkat pertumbuhan tanaman, efisiensi air, pengurangan volume sampah, hingga perubahan perilaku sehari-hari warga pesantren.
“Hari Santri bukan hanya mengenang masa lalu, tapi menyiapkan generasi penjaga masa depan bumi. Air bersih, hutan terjaga, dan sungai yang sehat adalah bagian dari kesejahteraan bangsa,” pungkas Haris. (Candra)





