Pasar Smartphone Tumbuh, Namun Beban Konsumen Kian Berat
XJABAR – Pasar smartphone global kembali mencatatkan pertumbuhan positif setelah melewati periode penuh ketidakpastian ekonomi. Data terbaru menunjukkan industri ponsel pintar berhasil tumbuh sebesar 1,9 persen secara tahunan, sebuah capaian yang cukup mengejutkan di tengah tekanan inflasi, kenaikan biaya hidup, serta pelemahan daya beli di berbagai negara.
Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, muncul kekhawatiran baru di kalangan konsumen. Pemulihan pasar ternyata tidak serta-merta diiringi dengan harga yang lebih terjangkau. Sebaliknya, tahun 2026 justru diproyeksikan menjadi periode yang berat bagi pembeli ponsel, terutama dari kelompok menengah yang selama ini menjadi tulang punggung pasar smartphone.
Dominasi dua merek besar, Apple dan Samsung, serta krisis pasokan komponen vital membuat harga perangkat berpotensi terus naik. Kondisi ini memaksa konsumen untuk semakin selektif dalam mengambil keputusan pembelian.
Dominasi Apple dan Samsung Mengubah Peta Pilihan Konsumen
Berdasarkan laporan International Data Corporation (IDC), Apple dan Samsung kini menguasai sekitar 39 persen pasar smartphone global, meningkat dari 37 persen pada tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan konsentrasi pasar yang semakin tinggi, di mana konsumen cenderung memilih merek besar dengan reputasi dan ekosistem yang kuat.
Konsumen Premium Masih Bertahan
Pertumbuhan pasar sebagian besar ditopang oleh segmen premium dengan harga di atas Rp 12,5 juta atau sekitar US$ 800. Konsumen di segmen ini relatif tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga karena daya beli mereka masih kuat dan pembelian ponsel sering dipandang sebagai investasi jangka panjang.
Namun, dominasi segmen premium secara tidak langsung mempersempit pilihan bagi konsumen dengan anggaran terbatas. Ketika fokus produsen mengarah ke perangkat mahal, inovasi di kelas menengah dan entry-level cenderung melambat atau disesuaikan dengan biaya produksi yang lebih ketat.
Krisis Komponen dan Dampaknya terhadap Harga di Tingkat Konsumen
Ancaman terbesar bagi daya beli konsumen pada 2026 datang dari sisi produksi. Kelangkaan memori RAM yang semakin parah mulai mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini sebelumnya telah berdampak pada industri komputer dan kini merembet ke pasar smartphone.
Ryan Reith, Wakil Presiden Grup IDC untuk perangkat klien global, menilai gangguan pasokan ini sebagai tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurutnya, durasi krisis memori akan sangat menentukan seberapa besar dampak yang dirasakan konsumen.
Biaya Produksi Naik, Harga Sulit Ditahan
Ketika biaya komponen meningkat, produsen berada pada posisi sulit. Di satu sisi, mereka harus menjaga margin keuntungan agar bisnis tetap berkelanjutan. Di sisi lain, menaikkan harga terlalu agresif berisiko menurunkan minat beli konsumen.





