Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan profesi lain yang diteliti, menandakan bahwa sebagian besar pekerjaan coding dapat diotomatisasi oleh teknologi AI.
Bagaimana Peran Programmer Berubah?
Dari Penulis Kode Menjadi Perancang Sistem
Seiring dengan meningkatnya kemampuan AI, peran programmer mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya fokus utama adalah menulis dan merapikan kode, kini tugas tersebut mulai diambil alih oleh AI.
Sebagai gantinya, programmer lebih banyak berfokus pada:
- Merancang arsitektur sistem
- Menganalisis potensi kegagalan sistem
- Menentukan kompromi desain (trade-off)
- Mengelola skalabilitas sistem
Perubahan ini menuntut programmer untuk memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang sistem secara keseluruhan.
Fokus pada Masalah Kompleks dan Strategis
AI mampu menangani tugas-tugas rutin, namun masih memiliki keterbatasan dalam menghadapi masalah baru dan kompleks. Oleh karena itu, peran manusia tetap dibutuhkan untuk:
- Pengambilan keputusan strategis
- Evaluasi hasil kerja AI
- Penyelesaian masalah yang tidak terstruktur
Dengan demikian, programmer tidak sepenuhnya tergantikan, tetapi bertransformasi menjadi peran yang lebih strategis.
Pandangan Para Pemimpin Industri Teknologi
Prediksi dari CEO Anthropic
CEO Anthropic, Dario Amodei, menyatakan bahwa AI berpotensi menangani sebagian besar pekerjaan software engineer dalam waktu 6 hingga 12 bulan ke depan.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa beberapa engineer di perusahaannya sudah tidak lagi menulis kode secara langsung, karena tugas tersebut telah dialihkan kepada AI.
Pendapat dari CEO Replit
CEO Replit juga menyampaikan pandangan bahwa peran software engineer dalam bentuknya saat ini bisa saja “menghilang”.
Pernyataan ini mencerminkan betapa besar perubahan yang sedang terjadi dalam industri teknologi.
Respons Industri terhadap Perubahan
Meskipun terdengar ekstrem, banyak pihak di industri melihat perubahan ini sebagai evolusi, bukan ancaman. AI dipandang sebagai alat yang dapat meningkatkan efisiensi, bukan menggantikan manusia sepenuhnya.
Keterbatasan AI dalam Coding
Masalah Halusinasi dan Kesalahan
Meskipun canggih, AI masih memiliki kelemahan, seperti:
- Menghasilkan kode yang tidak akurat
- “Halusinasi” dalam memahami konteks
- Kesalahan dalam desain sistem kompleks
Hal ini membuat peran manusia tetap penting dalam proses verifikasi dan pengujian.
Kebutuhan Pengawasan Manusia
AI membutuhkan pengawasan untuk memastikan bahwa hasil yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan standar yang diharapkan.
Programmer tetap berperan sebagai pengendali kualitas dan pengambil keputusan akhir.
Dampak pada Dunia Pendidikan
Perubahan Kurikulum Ilmu Komputer
Perkembangan AI juga mulai memengaruhi dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran ilmu komputer.
Pendiri Code.org menyatakan bahwa pembelajaran ke depan perlu lebih menekankan:
- Logika
- Pemecahan masalah
- Pemahaman sistem
Daripada sekadar menghafal sintaks pemrograman.
Coding Tidak Hilang, Tapi Berubah
Pernyataan “coding sudah mati, hidup coding” mencerminkan bahwa coding tidak benar-benar hilang, tetapi cara manusia melakukannya telah berubah.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.






