Salah satu risiko terbesar adalah doxing, yaitu praktik mengungkap identitas pribadi seseorang di internet tanpa izin. Jika identitas pemilik second account berhasil diungkap, maka seluruh aktivitas yang sebelumnya dianggap anonim bisa langsung dikaitkan dengan identitas asli pengguna.
Hal ini berpotensi memicu berbagai masalah, seperti:
- Cyberbullying atau perundungan daring
- Penyebaran informasi pribadi tanpa izin
- Serangan reputasi di dunia digital
Situasi ini menjadi lebih berbahaya jika akun anonim tersebut pernah memuat opini kontroversial atau kritik terhadap pihak tertentu.
Ancaman Spear-Phishing yang Lebih Personal
Selain doxing, para peneliti juga memperingatkan bahwa kemampuan AI mengumpulkan profil digital pengguna dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Dengan menggunakan informasi yang dikumpulkan dari second account, peretas dapat membuat skema penipuan yang sangat personal, dikenal sebagai spear-phishing.
Dalam metode ini, penipu menyamar sebagai orang yang tampak akrab dengan korban, misalnya teman kampus, rekan kerja, atau teman nongkrong. Karena penipu memiliki informasi spesifik tentang korban, pesan yang dikirimkan terasa lebih meyakinkan.
Tujuan dari serangan tersebut biasanya untuk:
- Memancing korban mengklik tautan berbahaya
- Mencuri data login
- Mengakses informasi pribadi atau finansial
Teknik ini jauh lebih berbahaya dibandingkan phishing biasa karena pesan yang digunakan tampak lebih autentik.
Pakar Keamanan Siber Ingatkan Risiko Privasi
AI Bisa Menembus Batas Antar Platform
Pakar keamanan siber dari University of Edinburgh, Marc Juarez, memperingatkan bahwa teknologi AI kini mampu menembus batas antar platform media sosial.
Artinya, AI tidak hanya menganalisis satu platform saja, tetapi dapat menggabungkan data dari berbagai sumber di internet untuk menemukan kecocokan identitas.
Menurut Juarez, perkembangan ini menunjukkan bahwa pengguna internet perlu meninjau kembali cara mereka menjaga privasi di dunia digital.
“Ini sangat mengkhawatirkan. Studi ini membuktikan bahwa kita harus memikirkan kembali praktik privasi kita,” ujar Juarez.
AI Tidak Selalu Akurat, Risiko Salah Tuduh Tetap Ada
Fenomena Halusinasi AI
Meskipun terdengar sangat canggih, para ahli menekankan bahwa teknologi AI tidak sepenuhnya sempurna. Sistem AI masih memiliki keterbatasan, termasuk fenomena yang dikenal sebagai halusinasi AI.
Halusinasi AI terjadi ketika sistem kecerdasan buatan menghasilkan kesimpulan yang tampak masuk akal tetapi sebenarnya tidak didukung oleh data yang benar.






