Saat pertama kali dirilis, proyek ini langsung menarik perhatian komunitas pengembang karena menawarkan konsep agen AI yang dapat menjalankan perintah komputer secara otomatis.
Kemampuan tersebut dianggap sebagai langkah baru dalam evolusi teknologi kecerdasan buatan yang tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis, tetapi juga sebagai sistem yang dapat menjalankan tugas secara mandiri.
Perubahan Nama Hingga Menjadi OpenClaw
Seiring perkembangan proyek tersebut, nama Clawdbot kemudian berubah menjadi Moltbot pada 27 Januari 2026. Tidak lama setelah itu, proyek kembali mengalami perubahan nama menjadi OpenClaw pada 30 Januari 2026.
Pergantian nama ini mencerminkan proses pengembangan yang cepat dalam komunitas open-source, di mana proyek teknologi dapat berkembang dan mengalami perubahan dalam waktu relatif singkat.
Sejak menggunakan nama OpenClaw, teknologi ini semakin dikenal luas dan mulai digunakan dalam berbagai eksperimen pengembangan AI.
Antusiasme Awal terhadap OpenClaw di China
Didukung Startup dan Perusahaan Teknologi
Sebelum munculnya pembatasan penggunaan, OpenClaw sempat mendapat sambutan positif dari berbagai pihak di China. Banyak perusahaan teknologi dan startup AI yang melihat teknologi ini sebagai peluang untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan digital.
Beberapa perusahaan bahkan mulai mengembangkan aplikasi berbasis agen AI yang memanfaatkan kemampuan OpenClaw untuk mengotomatisasi berbagai proses kerja.
Teknologi ini dianggap memiliki potensi besar dalam meningkatkan produktivitas karena mampu menjalankan berbagai tugas berulang tanpa campur tangan manusia.
Program AI Plus Dorong Eksperimen Teknologi
Antusiasme terhadap teknologi ini juga didorong oleh program nasional China yang dikenal dengan nama AI Plus. Program tersebut bertujuan mempercepat adopsi teknologi kecerdasan buatan dalam berbagai sektor industri.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah China mendorong perusahaan dan lembaga riset untuk mengembangkan aplikasi berbasis AI yang dapat meningkatkan daya saing teknologi nasional.
Beberapa pemerintah daerah bahkan memberikan subsidi bernilai jutaan yuan kepada perusahaan yang mengembangkan solusi berbasis AI agent seperti OpenClaw.
Kota Shenzhen, yang dikenal sebagai salah satu pusat teknologi China, menjadi salah satu wilayah yang aktif melakukan eksperimen terhadap teknologi ini.
Kekhawatiran Keamanan Jadi Alasan Pembatasan
Akses Sistem yang Terlalu Luas
Meski awalnya disambut antusias, regulator pusat di Beijing mulai menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi risiko keamanan dari teknologi AI agent seperti OpenClaw.
Untuk dapat menjalankan tugas secara otomatis, sistem ini biasanya memerlukan akses luas ke berbagai komponen perangkat digital. Hal tersebut mencakup akses ke data pengguna, aplikasi lain, serta koneksi jaringan internet.
Akses yang terlalu luas dianggap berpotensi menimbulkan berbagai masalah keamanan, terutama jika sistem tersebut disalahgunakan oleh pihak luar.
Risiko Kebocoran Data dan Penyalahgunaan Informasi
Menurut laporan media internasional seperti The Business Times dan Reuters, kekhawatiran utama pemerintah China berkaitan dengan potensi kebocoran data sensitif.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.






