Teknologi

Dampak AI terhadap Dunia Kerja Indonesia dari Perspektif Bisnis

23
×

Dampak AI terhadap Dunia Kerja Indonesia dari Perspektif Bisnis

Sebarkan artikel ini
Pekerjaan yang berpotensi digantikan AI di Indonesia
Pekerjaan yang berpotensi digantikan AI di Indonesia
73 / 100 Skor SEO

Di sektor digital marketing, misalnya, AI mampu mengatur kampanye iklan, menentukan target audiens, hingga mengevaluasi kinerja secara real time. Akibatnya, kebutuhan akan tenaga kerja yang hanya menjalankan tugas teknis menjadi berkurang.

Industri Digital dan Media di Persimpangan Jalan

Efisiensi versus Kualitas

Sektor media dan industri kreatif menjadi contoh nyata bagaimana AI dimanfaatkan untuk efisiensi bisnis. Konten berbasis teks, visual, hingga video kini dapat dihasilkan dengan cepat menggunakan AI generatif.

Bhima menilai bahwa perusahaan media digital mulai menggantikan sebagian peran content creator, copywriter, hingga jurnalis digital sebagai bagian dari strategi efisiensi. “Bukan berarti peran manusia hilang sepenuhnya, tetapi jumlahnya dikurangi dan fokusnya digeser ke peran yang lebih strategis,” jelasnya.

Namun, pendekatan ini menyimpan risiko jangka panjang. Ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi menurunkan kualitas konten dan kepercayaan publik jika tidak diimbangi dengan pengawasan editorial yang kuat.

Pekerja Semi-Skill Paling Rentan

Dari kacamata industri, pekerja semi-skill berada di posisi paling rentan. Mereka tidak lagi cukup murah dibandingkan AI, namun juga belum memiliki keahlian strategis yang sulit digantikan.

Jika tidak ada upaya reskilling, kelompok ini berisiko menjadi beban sosial baru, terutama ketika perusahaan lebih memilih investasi teknologi dibandingkan pengembangan SDM.

Tantangan Bisnis Jangka Panjang

Risiko Ketimpangan Pasar Tenaga Kerja

Meski AI meningkatkan produktivitas, Bhima mengingatkan bahwa adopsi teknologi tanpa strategi transisi tenaga kerja dapat menciptakan ketimpangan. Perusahaan besar dengan modal kuat akan semakin unggul, sementara usaha kecil dan menengah (UMKM) tertinggal karena keterbatasan akses teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *