Eco-Lifestyle Jadi Tren Gaya Hidup Hijau Masyarakat Urban
XJABAR – Eco-lifestyle kini semakin mengemuka sebagai tren gaya hidup di kalangan masyarakat urban, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan yang kian memburuk. Penurunan kualitas udara, penumpukan sampah di kawasan perkotaan, hingga pola cuaca yang sulit diprediksi menjadi realitas yang dirasakan langsung oleh warga kota besar di Indonesia. Situasi tersebut mendorong munculnya kesadaran baru bahwa persoalan lingkungan tidak lagi bersifat abstrak, melainkan berkaitan erat dengan kualitas hidup sehari-hari.
Pertumbuhan penduduk yang pesat, aktivitas ekonomi yang intensif, serta pola konsumsi yang terus meningkat menjadikan kota sebagai pusat tekanan lingkungan. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat urban mulai mempertanyakan kembali kebiasaan hidup mereka. Mulai dari penggunaan plastik sekali pakai, pilihan moda transportasi, hingga cara mengonsumsi produk sehari-hari, semua mulai dilihat dari sudut pandang keberlanjutan.
Perubahan Perilaku Masyarakat Kota
Perubahan ini tercermin dari semakin banyaknya warga kota yang berupaya mengurangi penggunaan plastik, memilih transportasi publik, berjalan kaki, atau bersepeda untuk jarak tertentu, serta lebih selektif dalam membeli produk. Isu lingkungan tidak lagi dipahami sebatas wacana global, tetapi menjadi persoalan nyata yang memengaruhi kesehatan, kenyamanan, dan masa depan kota.
Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai eco-lifestyle di lingkungan perkotaan. Eco-lifestyle tidak dapat dimaknai sebatas simbol atau tren visual, seperti membawa tas belanja kain atau botol minum pribadi. Lebih dari itu, eco-lifestyle mencerminkan upaya sadar untuk menjalani kehidupan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan melalui keputusan-keputusan sederhana namun dilakukan secara konsisten.
Dampak Nyata di Wilayah Perkotaan
Dalam konteks kota, pilihan gaya hidup ini memiliki dampak yang signifikan. Tingginya tingkat konsumsi dan emisi di wilayah urban menjadikan setiap perubahan perilaku individu berpotensi memberikan pengaruh yang lebih luas. Penelitian berjudul Transition to Circular Economy of Urban Areas and Communities with Special Attention to Lifestyles (2024) menegaskan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat urban merupakan elemen kunci dalam mendorong transisi menuju ekonomi sirkular di perkotaan.





