Namun minat terhadap pelatihan terus meningkat. Menurut laporan yang tersedia, sesi pelatihan berikutnya bahkan telah terisi penuh oleh pegawai yang ingin mempelajari cara memanfaatkan teknologi AI secara optimal.
Pentagon Memperluas Kemitraan dengan Perusahaan AI
Ketegangan dengan Anthropic
Ekspansi penggunaan AI di Pentagon terjadi di tengah dinamika hubungan antara pemerintah AS dan berbagai perusahaan teknologi kecerdasan buatan.
Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Anthropic, pengembang chatbot AI bernama Claude (AI chatbot).
Perusahaan tersebut diketahui menolak permintaan Pentagon untuk memberikan akses luas terhadap sistem AI mereka.
CEO Anthropic, Dario Amodei, menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat menyetujui permintaan akses tanpa batas yang diajukan oleh Departemen Pertahanan.
Menurut Amodei, ada kekhawatiran bahwa teknologi AI dapat digunakan dengan cara yang berpotensi merusak nilai-nilai demokrasi atau berada di luar batas kemampuan teknologi yang aman saat ini.
Setelah penolakan tersebut, Pentagon dilaporkan mengklasifikasikan perusahaan AI tersebut sebagai potensi risiko dalam rantai pasokan keamanan nasional.
Reaksi Internal dari Perusahaan Teknologi
Karyawan Teknologi Menyerukan Kebijakan Etis
Kerja sama antara perusahaan teknologi dan militer AS juga memicu perdebatan di dalam industri teknologi itu sendiri.
Sekitar 900 karyawan dari Google dan lebih dari 100 karyawan dari OpenAI dilaporkan menandatangani surat terbuka yang meminta perusahaan mereka tetap memegang prinsip etika dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Surat tersebut menyoroti pentingnya memastikan bahwa teknologi AI tidak digunakan untuk kegiatan yang melanggar prinsip kemanusiaan atau membahayakan masyarakat sipil.
Di sisi lain, Google juga dilaporkan melakukan perubahan pada prinsip penggunaan AI internalnya pada awal Februari terkait penggunaan teknologi tersebut dalam konteks tertentu.
Gelombang Boikot ChatGPT Menguat
Kampanye QuitGPT Menarik Dukungan Pengguna
Kontroversi penggunaan AI dalam jaringan militer juga memicu reaksi dari komunitas pengguna teknologi.
Chatbot populer ChatGPT milik OpenAI menghadapi gelombang boikot setelah muncul laporan mengenai kerja sama perusahaan tersebut dengan militer Amerika Serikat.
Gerakan yang dikenal dengan nama QuitGPT menyerukan kepada pengguna untuk berhenti menggunakan layanan ChatGPT sebagai bentuk protes terhadap kerja sama tersebut.
Menurut laporan yang beredar, lebih dari 1,5 juta orang telah terlibat dalam kampanye tersebut melalui berbagai cara, antara lain:
- membatalkan langganan ChatGPT
- menyebarkan kampanye di media sosial
- mendaftarkan dukungan melalui situs kampanye
Kampanye ini menuduh OpenAI lebih mengutamakan keuntungan bisnis dibandingkan pertimbangan keselamatan publik.
Kesepakatan OpenAI dengan Pentagon Picu Kontroversi
Pengumuman Sam Altman
Kontroversi semakin meningkat setelah CEO OpenAI, Sam Altman, mengumumkan kerja sama dengan Departemen Pertahanan AS.






