Temuan ini memperkuat pandangan bahwa setiap bentuk pergerakan memiliki nilai kesehatan. Para ahli menilai, pendekatan ini lebih realistis dan inklusif dibandingkan rekomendasi olahraga konvensional yang kerap sulit dipenuhi oleh sebagian masyarakat.
Kurang Aktivitas Fisik Masih Jadi Masalah Global
Saat ini, kurangnya aktivitas fisik diperkirakan bertanggung jawab atas setidaknya 9 persen kematian di seluruh dunia. Namun, para peneliti memperkirakan angka sebenarnya bisa lebih tinggi, mengingat banyak kasus kematian tidak secara langsung dikaitkan dengan gaya hidup sedentari.
Dalam penelitian ini, tidak satu pun peserta memiliki riwayat penyakit kronis atau gangguan mobilitas pada awal studi. Selama periode tindak lanjut selama delapan tahun, peneliti memantau perubahan aktivitas fisik dan dampaknya terhadap risiko kematian.
Dampak Pengurangan Waktu Duduk Terlalu Lama
Hasilnya menunjukkan bahwa pengurangan waktu sedentari, terutama pada individu yang menghabiskan lebih dari delapan jam per hari dengan minim pergerakan, berkaitan erat dengan penurunan risiko kematian. Kelompok ini mencakup lebih dari 70 persen total partisipan dalam penelitian.
Sebagai contoh, peserta yang biasanya duduk lebih dari 11 jam per hari dan kemudian didorong untuk bangun serta bergerak selama sekitar 30 menit menunjukkan penurunan risiko kematian hingga 10 persen. Bahkan, peningkatan durasi aktivitas fisik menjadi satu jam per hari dikaitkan dengan pengurangan risiko hingga 25 persen.
Tantangan Rekomendasi Aktivitas Fisik Konvensional
Dalam artikel yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet, para peneliti menyoroti bahwa banyak penelitian sebelumnya masih berpatokan pada rekomendasi 150 menit aktivitas fisik per minggu. Padahal, tidak semua individu mampu atau bersedia memenuhi target tersebut karena faktor usia, kondisi kesehatan, maupun keterbatasan waktu.





