“Temuan ini dapat membantu membentuk strategi pencegahan di masa depan. Penting untuk mengelola gula darah secara keseluruhan, tetapi juga secara khusus setelah makan,” ujar Dr. Mason.
Arah Baru Strategi Pencegahan Demensia
Senada dengan Dr. Mason, penulis senior studi ini, Dr. Vicky Garfield, menilai bahwa temuan tersebut membuka peluang baru dalam upaya pencegahan demensia. Ia menekankan pentingnya mereplikasi hasil penelitian ini pada populasi dan kelompok etnis lain untuk memastikan bahwa hubungan tersebut bersifat universal.
Menurut Dr. Garfield, jika temuan ini tervalidasi secara luas, pendekatan pengelolaan gula darah pasca-makan dapat menjadi bagian penting dari strategi pencegahan Alzheimer, terutama pada individu dengan risiko metabolik tinggi seperti penderita diabetes atau pradiabetes.
Pesan Penting bagi Masyarakat Umum
Studi ini membawa pesan kuat bahwa menjaga kestabilan gula darah setelah makan bukan sekadar isu metabolisme atau pengendalian berat badan. Lebih dari itu, pengelolaan lonjakan gula darah berpotensi menjadi langkah krusial dalam menjaga kesehatan otak dan menurunkan risiko demensia di usia lanjut.
Pola makan seimbang, pemilihan jenis karbohidrat yang tepat, serta aktivitas fisik ringan setelah makan menjadi langkah sederhana yang dapat membantu mengendalikan lonjakan glukosa. Dengan meningkatnya prevalensi Alzheimer secara global, temuan ini menegaskan bahwa pencegahan perlu dimulai sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari yang lebih sehat.





