Pada presentasi awal tahun 2003, Intel secara terbuka menyebut target frekuensi Tejas yang mencapai 7 GHz atau lebih. Target tersebut terdengar revolusioner, mengingat saat itu prosesor tercepat di pasaran masih berada di kisaran 3 GHz.
Realitas Teknis yang Menghentikan Ambisi
Daya Tinggi dan Panas Berlebih
Seiring berjalannya pengembangan, optimisme tersebut mulai memudar. Jadwal rilis Tejas yang awalnya direncanakan pada 2004 harus ditunda hingga 2005. Penundaan ini terjadi karena hasil pengujian internal menunjukkan masalah mendasar.
Sampel awal Tejas yang dibuat menggunakan proses fabrikasi 90 nanometer dan soket LGA 775 dilaporkan memiliki Thermal Design Power (TDP) hingga 150 watt, meski baru berjalan pada kecepatan 2,8 GHz. Angka ini jauh melampaui standar prosesor desktop pada masanya.
Sebagai pembanding, Pentium 4 Prescott 90 nm di frekuensi serupa hanya memiliki TDP sekitar 84 watt. Artinya, peningkatan performa yang diharapkan justru dibayar dengan lonjakan konsumsi daya dan panas yang sulit dikendalikan.
Keterbatasan Pendinginan dan Biaya
Masalah panas tidak hanya berdampak pada performa, tetapi juga pada ekosistem secara keseluruhan. Sistem pendingin yang dibutuhkan akan jauh lebih mahal, berisik, dan kompleks. Untuk pasar server, konsumsi daya setinggi itu berarti biaya operasional yang tidak masuk akal.
Kondisi ini membuat prosesor 7 GHz Intel semakin sulit dipertahankan sebagai produk komersial yang realistis.
Pembatalan Proyek dan Akhir Era NetBurst
Keputusan Strategis Intel
Pada Mei 2004, Intel resmi menghentikan pengembangan Tejas dan Jayhawk. Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya masa depan arsitektur NetBurst yang selama beberapa tahun menjadi tulang punggung prosesor Intel.





