Selain itu, penurunan kadar glukosa darah di siang hari dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, rasa kantuk berlebih, hingga sakit kepala. Kondisi ini sering diperparah oleh kurangnya asupan cairan dan waktu istirahat yang tidak optimal. Jika dibiarkan, keluhan fisik tersebut berpotensi memengaruhi suasana hati dan produktivitas.
Peran Nutrisi dan Hidrasi yang Tepat
Untuk menjaga puasa tetap sehat dan berdampak positif bagi kesehatan mental, para ahli menekankan pentingnya manajemen nutrisi dan hidrasi yang seimbang. Salah satu strategi yang banyak direkomendasikan adalah pola hidrasi “2-4-2”, yakni dua gelas air saat berbuka, empat gelas di malam hari hingga sebelum tidur, dan dua gelas saat sahur.
Pola ini dinilai efektif untuk mencegah dehidrasi, kelelahan ekstrem, serta gangguan pencernaan seperti sembelit. Asupan cairan yang cukup juga berperan penting dalam menjaga fungsi otak, stabilitas emosi, dan daya konsentrasi selama beraktivitas di siang hari.
Dari sisi nutrisi, menu sahur sebaiknya mengandung serat dan protein yang cukup, seperti sayuran, buah, telur, dan sumber protein lainnya. Jenis makanan ini memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga kadar energi tetap stabil dibandingkan karbohidrat sederhana yang cepat dicerna.
Aktivitas Fisik Tetap Penting Saat Puasa
Puasa sering kali dianggap sebagai alasan untuk mengurangi aktivitas fisik. Padahal, aktivitas ringan justru dianjurkan untuk menjaga kebugaran tubuh dan kesehatan mental. Olahraga dengan intensitas rendah hingga sedang, seperti jalan santai atau yoga, dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dan mengurangi ketegangan otot.
Olahraga Ringan untuk Keseimbangan Tubuh dan Pikiran
Waktu yang disarankan untuk berolahraga saat puasa adalah menjelang berbuka, sekitar 30 menit sebelum azan magrib. Pada waktu ini, tubuh relatif siap menerima asupan energi dan cairan setelah aktivitas fisik. Olahraga ringan terbukti membantu meningkatkan hormon endorfin yang berperan dalam memperbaiki suasana hati dan mengurangi stres.





