Dokter dan pengacara di masa depan mungkin tidak lagi dinilai dari seberapa banyak informasi yang mereka hafal, melainkan dari kemampuan mengintegrasikan teknologi AI dalam praktik profesional mereka.
AI dapat menangani analisis data dan dokumentasi, sementara manusia berfokus pada pengambilan keputusan kompleks, empati, dan komunikasi interpersonal.
Empati dan Kecerdasan Emosional Jadi Kunci
Tarifi menyoroti bahwa empati, kecerdasan emosional, dan kemampuan membangun koneksi antarmanusia merupakan keahlian yang belum dapat direplikasi oleh AI.
Dalam konteks medis, interaksi dokter dengan pasien memerlukan sensitivitas emosional dan pemahaman konteks sosial yang mendalam. Demikian pula dalam hukum, negosiasi dan pembelaan klien sering kali membutuhkan intuisi serta strategi interpersonal.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Generasi Muda?
Kejar Gelar Jika Dilandasi Passion
Tarifi menyarankan agar mahasiswa mengejar gelar hukum, kedokteran, atau Ph.D. hanya jika mereka memiliki passion mendalam terhadap riset dan bidang tersebut. Jika tujuan utamanya semata-mata keamanan finansial, maka risiko otomatisasi perlu dipertimbangkan.
Pernyataan ini bukan berarti menolak pendidikan tinggi, tetapi mengajak generasi muda untuk lebih realistis dalam menilai prospek karier di era AI.
Fokus pada Keterampilan Praktis dan Adaptif
Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan praktis, kemampuan adaptasi, serta literasi teknologi. Integrasi AI dalam pekerjaan sehari-hari akan menjadi hal yang tak terhindarkan.
Kemampuan bekerja berdampingan dengan AI, memahami cara memanfaatkan teknologi tersebut secara efektif, dan menjaga aspek humanis dalam profesi akan menjadi nilai tambah utama.
Kesimpulan
AI jadi pesaing baru lulusan hukum dan kedokteran bukan sekadar spekulasi, melainkan refleksi atas perkembangan nyata teknologi kecerdasan buatan. Pernyataan Jad Tarifi, mantan petinggi Google dan CEO Integral, menyoroti bagaimana gelar tinggi tidak lagi otomatis menjamin keamanan karier di tengah percepatan inovasi AI.






