“Provinsi Jawa Barat memiliki peran strategis dalam perdagangan internasional Indonesia, didukung oleh kapasitas industri manufaktur, diversifikasi komoditas ekspor, serta jaringan pelaku usaha yang terintegrasi dalam rantai pasok global,” ujar Erwan.
Berdasarkan data perdagangan, sektor otomotif dan tekstil masih mendominasi transaksi bilateral ini. Berikut adalah deretan komoditas penyumbang ekspor terbesar.
Kendaraan dan Suku Cadang: Menjadi kontributor nomor satu dengan nilai mencapai USD 82,67 juta. Serat Stapel Buatan: Mencatatkan angka ekspor sebesar USD 49,48 juta. Komoditas Pendukung Lainnya: Meliputi produk kosmetika, besi dan baja, kertas, mesin mekanis, hingga produk farmasi.
Selain produk manufaktur di atas, Pemprov Jabar juga melirik peluang ekspor untuk produk potensial lainnya seperti fesyen (topi dan pakaian olahraga), beras Cianjur, kopi lokal, produk perawatan kulit (skincare), hingga kerajinan tangan.
Dubes RI untuk Pakistan, Letjen TNI (Purn) Chandra Warsenanto Sukotjo, menyambut baik tren positif ini. Ia menilai peluang kerja sama ekonomi kedua negara masih sangat terbuka lebar, terutama melalui skema perdagangan seperti Preferential Trade Agreement (PTA) menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
Lebih lanjut, Dubes Chandra juga menyoroti potensi besar Jawa Barat dalam sektor industri halal. Jabar sangat strategis untuk menjadi mitra utama bagi para pelaku usaha di Pakistan dalam memasarkan produk halal dan komoditas unggulan lainnya.
Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, pelaku usaha lokal, dan mitra internasional, Pemprov Jawa Barat optimis daya saing produk lokal di kancah global akan semakin kuat sekaligus memperluas jangkauan pasar ekspor Indonesia. (*)





