Green sufisme muncul sebagai pendekatan alternatif menghadapi krisis darurat sampah
XJABAR.COM – Green sufisme kini menjadi sorotan sebagai pendekatan alternatif dalam merespons krisis darurat sampah yang melanda berbagai kota besar di Indonesia. Persoalan lingkungan yang terjadi di wilayah seperti Tangerang Selatan, Bandung, Bekasi, Depok, hingga Denpasar tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai kegagalan sistem pengelolaan limbah, melainkan cerminan krisis yang lebih dalam—krisis cara pandang manusia terhadap alam dan dirinya sendiri.
Gunungan sampah yang kian mengkhawatirkan di kawasan perkotaan mencerminkan kegagalan peradaban urban dalam mengendalikan pola konsumsi. Situasi ini menjadi alarm keras bahwa solusi teknokratis semata tidak cukup. Diperlukan pendekatan yang menyentuh dimensi kesadaran, nilai, dan spiritualitas manusia.
Perspektif tersebut disampaikan oleh Bambang Irawan, Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah, yang menawarkan kerangka green sufisme sebagai lensa etis dan spiritual dalam memahami serta mengatasi darurat sampah.
Krisis sampah sebagai cerminan kegagalan peradaban modern
Tumpukan limbah dan pola hidup konsumtif
Dalam pandangan tasawuf, kondisi lingkungan yang rusak tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil akumulasi dari gaya hidup konsumtif, kerakusan (nafs), dan keinginan manusia untuk terus memenuhi hasrat material tanpa kendali. Sampah yang menggunung di luar ruang hidup manusia sejatinya merupakan pantulan dari “sampah batin” yang mengendap dalam kesadaran kolektif.
Budaya membeli untuk kepuasan sesaat, penggunaan barang sekali pakai, serta obsesi pada citra sosial telah menghasilkan limbah dalam skala masif. Kota-kota besar yang seharusnya menjadi simbol kemajuan justru menghadapi krisis serius akibat ketidakmampuan warganya mengelola konsumsi.
Alam sebagai alarm spiritual
Tasawuf memandang alam sebagai entitas yang hidup dan memiliki cara berkomunikasi. Bau menyengat dari tumpukan sampah, banjir akibat saluran tersumbat, hingga munculnya penyakit adalah bentuk “teguran” alam atas rusaknya keseimbangan relasi manusia dengan lingkungan.
Dalam kerangka ini, krisis lingkungan bukan sekadar bencana ekologis, tetapi juga krisis spiritual. Alam seakan mengingatkan bahwa manusia telah melampaui batas dan melupakan tanggung jawabnya sebagai penjaga bumi.
Green sufisme: memaknai alam sebagai ruang suci
Semesta sebagai “masjid besar”
Green sufisme memandang alam semesta sebagai ruang sakral—ibarat masjid besar tempat manusia menjalani laku ibadah. Jika bumi dipahami sebagai ruang suci, maka mencemarinya dengan sampah sama artinya dengan menodai tempat ibadah itu sendiri.






