Teknologi

Grok AI Kembali Disorot, Konten Visual Seksual Masih Muncul Meski Dibatasi

144
×

Grok AI Kembali Disorot, Konten Visual Seksual Masih Muncul Meski Dibatasi

Sebarkan artikel ini
Grok AI kembali menjadi sorotan setelah laporan investigasi mengungkap bahwa chatbot kecerdasan buatan milik Elon Musk tersebut
Grok AI kembali menjadi sorotan setelah laporan investigasi mengungkap bahwa chatbot kecerdasan buatan milik Elon Musk tersebut

Grok AI kembali menuai kritik global terkait konten visual berbau seksual

XJABAR.COM – Grok AI kembali menjadi sorotan setelah laporan investigasi mengungkap bahwa chatbot kecerdasan buatan milik Elon Musk tersebut masih mampu menghasilkan gambar berbau seksual atas permintaan pengguna. Temuan ini muncul meskipun sebelumnya platform media sosial X—yang juga berada di bawah kendali Musk—telah menyatakan komitmen untuk membatasi kemampuan Grok dalam memproduksi konten semacam itu menyusul kecaman global.

Kasus ini memicu kembali perdebatan mengenai tanggung jawab perusahaan teknologi dalam mengawasi sistem kecerdasan buatan generatif, terutama yang berkaitan dengan privasi, persetujuan, dan potensi penyalahgunaan teknologi visual berbasis AI.

Latar belakang kontroversi Grok AI

Janji pembatasan setelah protes internasional

Kontroversi Grok AI bermula ketika sejumlah pengguna menemukan bahwa chatbot tersebut mampu mengubah foto asli seseorang menjadi gambar tanpa busana atau menampilkan pose yang bersifat seksual. Temuan ini langsung memicu kecaman dari berbagai kalangan, termasuk aktivis privasi digital, akademisi, dan regulator di sejumlah negara.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, pihak X mengumumkan akan melakukan pembatasan agar Grok tidak lagi menghasilkan konten visual provokatif, terutama dalam unggahan publik. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa langkah tersebut belum sepenuhnya efektif.

Posisi Grok dalam ekosistem AI generatif

Grok dikembangkan oleh xAI, perusahaan kecerdasan buatan yang didirikan Elon Musk, dan terintegrasi langsung dengan platform X. Integrasi ini membuat Grok memiliki akses luas ke interaksi pengguna, sekaligus meningkatkan risiko penyalahgunaan jika pengamanan tidak diterapkan secara ketat.

Investigasi Reuters ungkap celah pengamanan

Metodologi pengujian oleh jurnalis

Investigasi yang dilakukan Reuters melibatkan sembilan jurnalis yang secara sistematis menguji kemampuan Grok dalam menghasilkan gambar seksual tanpa persetujuan subjek. Dalam laporan yang dipublikasikan Selasa (3/2/2026), disebutkan bahwa para reporter—terdiri dari pria dan wanita—mengirimkan foto diri mereka sendiri dan rekan mereka dalam kondisi berpakaian lengkap kepada Grok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *