Hubungan Terlihat Harmonis, Mengapa Perselingkuhan Tetap Terjadi? Ini Penjelasan Psikolog
XJABAR.COM – Mengapa Orang Berselingkuh meski Hubungannya Bahagia menjadi pertanyaan yang kerap muncul ketika publik dihadapkan pada kasus perselingkuhan yang terjadi di tengah hubungan yang tampak stabil, penuh kasih, dan minim konflik. Dalam banyak situasi, perselingkuhan sering diasosiasikan dengan hubungan yang bermasalah. Namun kenyataannya, tidak sedikit hubungan yang terlihat harmonis justru mengalami pengkhianatan emosional maupun fisik.
Fenomena ini kerap menimbulkan kebingungan sekaligus luka mendalam, terutama bagi pihak yang merasa telah membangun hubungan dengan komitmen dan kepercayaan. Para ahli kesehatan mental menegaskan bahwa perselingkuhan tidak selalu mencerminkan ketidakbahagiaan dalam hubungan, melainkan sering kali berakar pada dinamika psikologis individu yang berselingkuh.
Perselingkuhan Tidak Selalu Menandakan Hubungan yang Buruk
Dalam pandangan umum, perselingkuhan sering dianggap sebagai bukti kegagalan hubungan. Namun, para terapis menyampaikan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Hubungan yang sehat secara struktural belum tentu diisi oleh individu yang sehat secara emosional.
Stacy Thiry, konselor kesehatan mental berlisensi di Grow Therapy, menjelaskan bahwa perselingkuhan tidak selalu berarti seseorang ingin mengakhiri hubungannya atau merasa tidak bahagia dengan pasangannya. Dalam banyak kasus, tindakan tersebut justru berkaitan dengan konflik internal yang belum terselesaikan.
“Perselingkuhan dalam sebuah hubungan tidak selalu berarti seseorang merasa sepenuhnya tidak bahagia atau ingin mengakhiri hubungan tersebut,” ujar Thiry, dikutip dari Best Life.
Pernyataan ini menegaskan bahwa memahami perselingkuhan membutuhkan sudut pandang yang lebih luas, tidak hanya berfokus pada kualitas hubungan, tetapi juga kondisi psikologis individu di dalamnya.
Enam Alasan Psikologis Orang Berselingkuh Meski Hubungannya Bahagia
1. Harga Diri yang Rendah dan Kebutuhan Validasi
Salah satu faktor paling umum adalah harga diri yang rendah. Individu dengan kepercayaan diri yang rapuh kerap merasa tidak cukup berharga, meskipun berada dalam hubungan yang suportif dan penuh perhatian.
Psikolog klinis Monica Vermani menjelaskan bahwa rasa tidak aman ini sering mendorong seseorang mencari validasi dari luar hubungan. Pujian atau perhatian dari orang baru dapat memberikan dorongan ego instan yang terasa lebih kuat dibandingkan afirmasi dari pasangan sendiri.
Ken Fierheller, psikoterapis terdaftar, menambahkan bahwa perasaan “diinginkan” oleh orang lain dapat menciptakan ilusi nilai diri yang meningkat, meskipun sifatnya sementara dan semu.
2. Dorongan Mencari Sensasi dan Lonjakan Dopamin
Pengalaman baru secara biologis memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang berperan dalam rasa senang dan antusiasme. Inilah yang membuat perselingkuhan sering terasa menggairahkan di tahap awal.






