Renée Zavislak, terapis pernikahan dan keluarga, menjelaskan bahwa sensasi ini kerap disalahartikan sebagai kebahagiaan atau cinta baru. Padahal, menurut konselor Kristie Tse, seseorang bisa tetap mencintai pasangannya namun tergoda oleh sensasi yang berbeda.
Thiry menekankan bahwa hubungan jangka panjang memerlukan upaya sadar untuk terus menciptakan pengalaman baru bersama agar tidak terjebak dalam rutinitas yang monoton.
3. Ketidakseimbangan Kebutuhan Seksual
Perbedaan kebutuhan seksual merupakan hal yang umum dalam hubungan jangka panjang. Namun, ketika topik ini tidak dibicarakan secara terbuka dan sehat, ketimpangan tersebut dapat menjadi celah munculnya perselingkuhan.
Fierheller menjelaskan bahwa individu dengan dorongan seksual lebih tinggi dapat merasa kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi secara konsisten. Meski bukan pembenaran, kondisi ini meningkatkan risiko pencarian pemenuhan di luar hubungan.
Komunikasi terbuka mengenai kebutuhan seksual, batasan, dan ekspektasi menjadi elemen penting dalam menjaga keintiman dan rasa saling menghormati.
4. Trauma Masa Lalu yang Belum Terselesaikan
Pengalaman masa kecil, termasuk menyaksikan perselingkuhan orang tua atau pola hubungan tidak sehat, dapat membentuk cara seseorang membangun relasi di masa dewasa.
Monica Vermani menyebut bahwa individu dengan latar belakang seperti ini kerap membawa rasa tidak aman dan ketidakpercayaan ke dalam hubungan romantis mereka. Kristie Tse menambahkan bahwa gaya keterikatan tidak aman—seperti anxious attachment atau avoidant attachment—juga berkontribusi terhadap risiko perselingkuhan.






