Tradisi ketupat kemudian identik dengan perayaan Idulfitri, bahkan berkembang dalam budaya “Lebaran Ketupat” yang biasanya dirayakan satu minggu setelah hari raya utama. Tradisi ini masih lestari di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa, sebagai bentuk syukur setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Secara etimologis, istilah ketupat atau “kupat” dalam bahasa Jawa memiliki makna filosofis “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Makna ini selaras dengan esensi Idulfitri sebagai momen saling memaafkan dan memperbaiki hubungan antarsesama manusia.
Selain itu, bentuk anyaman janur pada ketupat melambangkan kompleksitas kehidupan manusia. Anyaman yang saling silang menggambarkan berbagai kesalahan dan dinamika hidup yang tidak selalu berjalan lurus. Hal ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki kekhilafan dalam perjalanan hidupnya.
Ketika ketupat dibelah, bagian dalamnya yang berwarna putih bersih melambangkan hati yang suci setelah menjalani bulan Ramadan. Warna putih tersebut menjadi simbol keberhasilan umat muslim dalam membersihkan diri dari dosa dan kembali ke fitrah.






