Kombinasi keduanya menciptakan stres fisiologis yang berkelanjutan pada jantung dan pembuluh darah.
Hilangnya Waktu Pemulihan Jantung
Tidur sehat merupakan fase penting bagi tubuh untuk melakukan pemulihan, termasuk bagi sistem kardiovaskular. Saat tidur normal, tekanan darah cenderung menurun, detak jantung melambat, dan pembuluh darah beristirahat dari aktivitas siang hari.
Namun, pada penderita insomnia, siklus tidur terganggu oleh kesulitan memulai tidur atau sering terbangun. Pada penderita obstructive sleep apnea, jeda napas berulang menyebabkan kadar oksigen turun dan tubuh merespons dengan meningkatkan tekanan darah serta denyut jantung secara tiba-tiba.
Andrey Zinchuk, MD, MHS, profesor kedokteran paru sekaligus asisten penulis senior studi ini, menekankan pentingnya “reset” malam hari tersebut. Menurutnya, tanpa siklus pemulihan yang utuh, pembuluh darah tidak dapat beradaptasi dan mengembalikan keseimbangan sistem tubuh secara optimal.
Ketika gangguan ini berlangsung dalam jangka panjang, tekanan yang berulang dapat meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung.
Bagaimana Gangguan Tidur Meningkatkan Risiko Hipertensi?
Mekanisme Tekanan Darah yang Tidak Stabil
Sleep apnea diketahui menyebabkan fluktuasi tekanan darah akibat respons tubuh terhadap kekurangan oksigen. Setiap kali napas terhenti, tubuh memicu reaksi stres yang meningkatkan tekanan darah untuk menjaga suplai oksigen ke organ vital.
Sementara itu, insomnia kronis dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatik secara berlebihan. Sistem ini bertanggung jawab atas respons “fight or flight” yang meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
Ketika kedua mekanisme ini terjadi bersamaan, risiko hipertensi meningkat secara signifikan. Kombinasi tersebut membuat tekanan darah tidak memiliki waktu cukup untuk stabil dan menurun secara alami saat tidur.
Risiko Penyakit Kardiovaskular Jangka Panjang
Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan stroke. Dengan demikian, COMISA berpotensi menjadi pemicu awal lintasan penyakit kardiovaskular.
Tim peneliti Yale ingin mengetahui apakah COMISA berpengaruh sejak awal perkembangan risiko kardiovaskular, bukan hanya terlihat setelah puluhan tahun ketika penyakit sudah terbentuk.
Temuan mereka menunjukkan bahwa dampak gangguan tidur dapat mulai terdeteksi lebih dini daripada yang selama ini diperkirakan.
Pentingnya Deteksi dan Penanganan Dini COMISA
Gangguan Tidur Bukan Sekadar Masalah Ringan
Para peneliti menekankan bahwa insomnia dan sleep apnea tidak boleh dianggap sebagai gangguan ringan atau sekadar rasa frustrasi akibat kurang tidur. Dalam jangka panjang, gangguan tidur kronis memberikan tekanan nyata pada sistem kardiovaskular.






