Namun ia segera menambahkan konteks yang tidak kalah penting: “Ini adalah bagian yang salah dari orang-orang: AI belum secara langsung menggantikan pekerjaan dalam skala besar. Tetapi pengeluaran AI memaksa perusahaan untuk melakukan pertukaran, dan tenaga kerja adalah di mana pertukaran itu muncul.”
Distingsi tersebut krusial. AI bukan memecat karyawan secara langsung — tetapi biaya membangun infrastruktur AI yang masif memaksa perusahaan mencari sumber dana, dan pengurangan tenaga kerja menjadi pilihan yang paling cepat menghasilkan penghematan skala besar.
Siapa yang Paling Rentan?
Meski PHK Oracle kali ini lebih bersifat efisiensi finansial daripada substitusi langsung oleh otomasi, proyeksi jangka menengah tetap suram bagi pekerja kerah putih. Laporan Anthropic menyebut profesi seperti programmer, layanan pelanggan, dan pemasaran masuk dalam kategori yang paling rentan terhadap disrupsi AI.
Goldman Sachs memperkirakan 6% hingga 7% pekerja di Amerika Serikat berpotensi terdampak oleh AI. Proyeksi ini bahkan dilampaui oleh pernyataan CEO Ford Motor Company yang menyebut AI dapat menggantikan hingga separuh pekerjaan kerah putih dalam jangka panjang.
PHK Oracle mencerminkan pergeseran pendekatan strategis yang mendasar. Jika sebelumnya pemangkasan tenaga kerja dilakukan secara terbatas dan bertahap, skala yang terjadi pada 2026 menandai era baru — di mana investasi infrastruktur AI menjadi prioritas yang mengalahkan pertimbangan stabilitas tenaga kerja.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.






