Pemerintah koalisi saat ini juga disebut tidak lagi secara eksplisit mengecualikan kemungkinan AI membuat keputusan mematikan tanpa pengawasan manusia, berbeda dengan pemerintahan sebelumnya di bawah Olaf Scholz yang menegaskan pentingnya kontrol manusia dalam sistem senjata.
Target “Siap Perang” 2029
Pejabat pertahanan Jerman telah menetapkan tahun 2029 sebagai tenggat waktu bagi angkatan bersenjata untuk mencapai status “siap perang.” Pemerintah menyebut ancaman keamanan regional, termasuk potensi ketegangan dengan Rusia, sebagai alasan percepatan modernisasi militer.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh Moskow. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, sebelumnya menyebut spekulasi ancaman Rusia sebagai “omong kosong” yang digunakan untuk membenarkan peningkatan anggaran militer di Eropa.
Apakah Ini Pergeseran Opini Publik?
Perbandingan dengan Survei 2021
Hasil survei terbaru ini mengindikasikan potensi perubahan signifikan dalam opini publik Jerman. Pada 2021, jajak pendapat yang dilakukan oleh kampanye anti-senjata berbasis AI menunjukkan hanya 19 persen responden yang menyetujui penggunaan sistem senjata otonom.
Sekitar 70 persen responden saat itu menyatakan kekhawatiran etis terhadap penggunaan teknologi AI dalam pengambilan keputusan mematikan.
Lonjakan dukungan menjadi 33 persen dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya pergeseran sikap, meski kelompok yang mendukung kontrol manusia tetap lebih besar.
Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Sejumlah analis menilai perubahan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor:
- Meningkatnya ketegangan geopolitik di Eropa.
- Perkembangan teknologi AI yang semakin canggih.
- Narasi keamanan nasional yang lebih kuat dalam wacana politik domestik.
Paparan masyarakat terhadap teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari juga dapat berkontribusi pada meningkatnya penerimaan terhadap penerapan AI dalam konteks militer.
Apa Itu Senjata Otonom Berbasis AI?
Definisi dan Karakteristik
Sistem senjata otonom berbasis AI adalah platform militer yang mampu mengidentifikasi target dan mengambil keputusan menyerang tanpa intervensi langsung manusia dalam setiap tahap operasional.
Teknologi ini memanfaatkan sensor, algoritma pembelajaran mesin, serta pemrosesan data real-time untuk menentukan tindakan di medan perang.
Pendukungnya berargumen bahwa sistem ini dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko bagi tentara, dan mempercepat respons terhadap ancaman.
Kontroversi Etika dan Hukum
Namun, kritik terhadap “robot pembunuh” berfokus pada isu akuntabilitas dan etika. Pertanyaan utama yang sering diajukan adalah: siapa yang bertanggung jawab jika sistem AI membuat kesalahan fatal?






