Sensor EO/IR juga mampu mendeteksi penanda laser yang digunakan dalam sistem penargetan presisi.
Setelah target terdeteksi, data koordinat dikirim melalui saluran komunikasi datalink yang terhubung dengan sistem kendali senjata pesawat.
AI Gunslinger kemudian membantu menganalisis data tersebut untuk memastikan target benar-benar merupakan drone musuh sebelum proses penyerangan dilakukan.
Persenjataan yang Digunakan untuk Menghancurkan Drone
Rudal Laser dan Senapan Mesin Kaliber .50
Setelah target dikonfirmasi, Super Tucano memiliki beberapa opsi persenjataan untuk mengeksekusi serangan.
Pesawat ini dapat menggunakan Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS), yaitu rudal berpemandu laser yang dirancang untuk menghancurkan target dengan akurasi tinggi.
Selain itu, pesawat juga dilengkapi dengan dua senapan mesin kaliber .50 (12,7 mm) yang terpasang pada sayap.
Senjata ini dikenal efektif untuk menghancurkan drone dengan biaya operasi yang jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan rudal besar atau sistem pertahanan udara kompleks.
Pendekatan ini membuat operasi anti-drone menjadi lebih efisien secara ekonomi tanpa mengurangi efektivitas misi.
Keunggulan Super Tucano Dibanding Jet Tempur Supersonik
Stabil pada Kecepatan Rendah
Salah satu keunggulan utama Super Tucano dalam misi anti-drone adalah karakteristik terbangnya.
Sebagai pesawat turboprop, Super Tucano memiliki stabilitas tinggi pada kecepatan rendah. Hal ini memungkinkan pesawat untuk menyesuaikan kecepatan dengan target drone yang biasanya bergerak jauh lebih lambat dibandingkan jet tempur.
Dengan kecepatan yang lebih terkendali, pilot dapat mempertahankan posisi penembakan yang stabil sehingga meningkatkan peluang keberhasilan serangan.
Sebaliknya, jet tempur supersonik sering kali terlalu cepat untuk mengejar drone kecil secara efektif, terutama dalam pertempuran jarak dekat di ketinggian rendah.
Faktor Ekonomi: Solusi Anti-Drone yang Lebih Efisien
Biaya Operasional Lebih Rendah
Salah satu alasan utama transformasi Super Tucano menjadi “drone killer” adalah faktor biaya.
Dalam banyak kasus, negara harus menggunakan jet tempur bernilai puluhan hingga ratusan juta dolar hanya untuk menembak jatuh drone yang harganya jauh lebih murah.
Situasi tersebut menciptakan ketidakseimbangan biaya dalam operasi militer.






