Lifestyle

Angka Kelahiran Turun di Indonesia, Pasangan Modern Pilih Kejar Aktualisasi Diri

42
×

Angka Kelahiran Turun di Indonesia, Pasangan Modern Pilih Kejar Aktualisasi Diri

Sebarkan artikel ini
Angka kelahiran turun, pasangan modern kejar aktualisasi diri menjadi fenomena sosial yang kian nyata di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
Angka kelahiran turun, pasangan modern kejar aktualisasi diri menjadi fenomena sosial yang kian nyata di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Angka Kelahiran Turun di Indonesia, Pasangan Modern Pilih Kejar Aktualisasi Diri

XJABAR.COM – Angka kelahiran turun, pasangan modern kejar aktualisasi diri menjadi fenomena sosial yang kian nyata di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren penurunan total fertility rate (TFR) secara signifikan sejak 1971 hingga 2020. Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga transformasi pola pikir generasi baru yang semakin memprioritaskan kesiapan mental, finansial, serta pencapaian pribadi sebelum memiliki anak.

Perubahan orientasi hidup tersebut diungkapkan oleh pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog, yang menyebut adanya peningkatan kesadaran akan pentingnya kesiapan sebelum menjadi orangtua. Di sisi lain, psikolog klinis dewasa Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., Psikolog, menilai era digital turut memperluas pemahaman masyarakat tentang konsep aktualisasi diri.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang terdampak? Mengapa angka kelahiran terus menurun? Dan bagaimana data resmi menggambarkan perubahan ini?

Data BPS: Tren Angka Kelahiran Turun Selama Lima Dekade

Penurunan Total Fertility Rate Sejak 1971

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui pada Maret 2023 menunjukkan bahwa angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia mengalami penurunan tajam dalam hampir lima dekade terakhir.

Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 1971, angka TFR Indonesia tercatat di level 5,61. Artinya, rata-rata perempuan pada usia reproduktif saat itu melahirkan lebih dari lima anak sepanjang masa suburnya. Angka tersebut terus menurun secara bertahap hingga mencapai 2,34 pada tahun 2000.

Meski sempat mengalami kenaikan tipis menjadi 2,41 pada periode 2010, tren penurunan kembali berlanjut. Melalui data Sensus Penduduk dan Long Form (LF) 2020, TFR Indonesia menyentuh angka 2,18—menjadi titik terendah sepanjang periode pencatatan tersebut.

Penurunan ini menunjukkan perubahan struktural dalam perilaku reproduksi masyarakat Indonesia.

Apa Arti Penurunan TFR?

Secara demografis, angka TFR di kisaran 2,1 sering disebut sebagai tingkat penggantian penduduk (replacement level). Ketika angka ini terus menurun, potensi dampaknya adalah perlambatan pertumbuhan penduduk dalam jangka panjang.

Namun, angka statistik tersebut tidak berdiri sendiri. Ia mencerminkan perubahan sosial, ekonomi, dan psikologis yang terjadi di tengah masyarakat.

Mengapa Pasangan Modern Menunda atau Mengurangi Jumlah Anak?

Kesadaran Kesiapan Mental dan Finansial

Fitri Jayanthi menjelaskan bahwa masyarakat kini memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kesiapan mental maupun finansial sebelum memutuskan memiliki anak.

Menurutnya, prioritas hidup mulai bergeser karena individu merasa perlu memastikan stabilitas emosional dan ekonomi terlebih dahulu. Keputusan memiliki anak tidak lagi dipandang sebagai kewajiban otomatis setelah menikah, melainkan pilihan yang memerlukan pertimbangan matang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *