Lifestyle

Tren Hunian Gen Z Berubah, Co-Living Semakin Populer Dibanding Kos Konvensional

65
×

Tren Hunian Gen Z Berubah, Co-Living Semakin Populer Dibanding Kos Konvensional

Sebarkan artikel ini
Co-living semakin diminati Gen Z dan milenial dibanding nge-kos sebagai pilihan hunian di kota besar.
Co-living semakin diminati Gen Z dan milenial dibanding nge-kos sebagai pilihan hunian di kota besar.

Co-Living Menjadi Alternatif Hunian Baru bagi Generasi Muda

XJABAR.COM – Co-living semakin diminati Gen Z dan milenial dibanding nge-kos sebagai pilihan hunian di kota besar. Fenomena ini muncul seiring meningkatnya harga properti di kawasan perkotaan yang membuat banyak generasi muda lebih memilih menyewa tempat tinggal daripada membeli rumah atau apartemen.

Dalam beberapa tahun terakhir, konsep co-living mulai berkembang pesat sebagai solusi hunian modern bagi masyarakat urban. Model hunian ini menawarkan tempat tinggal bersama dalam satu properti yang dilengkapi berbagai fasilitas serta komunitas penghuni yang aktif.

Berbeda dengan kos konvensional yang biasanya hanya menyediakan kamar untuk disewa, co-living menawarkan pengalaman tinggal yang lebih terintegrasi, termasuk fasilitas bersama, aktivitas komunitas, serta lokasi yang umumnya berada di pusat kota.

Tren ini semakin terlihat di kota-kota besar, di mana generasi muda menghadapi tantangan besar untuk memiliki hunian sendiri karena harga properti yang terus meningkat.

Apa Itu Co-Living dan Mengapa Semakin Populer?

Pengertian Co-Living atau Community Living

Co-living atau community living merupakan konsep hunian di mana beberapa orang tinggal dalam satu properti yang sama dengan fasilitas bersama tertentu. Setiap penghuni biasanya memiliki kamar pribadi, sementara ruang lain seperti dapur, ruang kerja, atau ruang santai digunakan secara bersama.

Model hunian ini dirancang untuk menciptakan lingkungan tinggal yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tidur, tetapi juga sebagai ruang sosial bagi para penghuninya.

Konsep tersebut sebenarnya bukan hal baru di dunia. Di berbagai negara, co-living memiliki sebutan yang berbeda, antara lain:

  • Shared-house di Jepang
  • Officetel di Korea Selatan
  • Multifamily housing di Amerika Serikat dan Australia

Meskipun memiliki istilah berbeda, prinsip dasar konsep ini tetap sama, yaitu menyediakan hunian bersama dengan fasilitas yang mendukung interaksi sosial antar penghuni.

Perubahan Gaya Hidup Generasi Muda

Popularitas co-living tidak terlepas dari perubahan gaya hidup generasi muda di perkotaan. Generasi seperti Gen Z dan milenial cenderung lebih fleksibel dalam memilih tempat tinggal.

Banyak dari mereka lebih memprioritaskan akses terhadap fasilitas kota, kemudahan mobilitas, serta lingkungan sosial yang aktif dibandingkan kepemilikan properti jangka panjang.

Hal ini membuat konsep hunian berbasis komunitas seperti co-living menjadi semakin relevan bagi kebutuhan mereka.

Data Penghuni Co-Living Didominasi Generasi Muda

Mayoritas Penghuni Berusia 18 hingga 34 Tahun

Fenomena meningkatnya minat terhadap co-living juga terlihat dari data penghuni yang disampaikan oleh perusahaan penyedia hunian bersama Cove.

Country Director of Investment Cove, Rizky Kusumo, mengungkapkan bahwa sebagian besar penghuni co-living berasal dari kalangan generasi muda.

Berdasarkan data tersebut, komposisi usia penghuni terbagi sebagai berikut:

  • Usia 18–24 tahun sekitar 38 persen
  • Usia 25–34 tahun sekitar 46 persen
  • Milenial sekitar 11 persen
  • Sisanya berusia di atas 45 tahun

Data ini menunjukkan bahwa mayoritas penghuni co-living berasal dari kelompok usia produktif yang umumnya sedang membangun karier di kota besar.

Generasi Urban Mencari Hunian Fleksibel

Rizky menjelaskan bahwa tren ini mencerminkan perubahan kebutuhan hunian generasi muda yang cenderung lebih fleksibel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *