Lifestyle

Benarkah Wanita Harus Sering Menangis agar Terhindar dari Kanker dan Autoimun? Ini Penjelasan Medisnya

7
×

Benarkah Wanita Harus Sering Menangis agar Terhindar dari Kanker dan Autoimun? Ini Penjelasan Medisnya

Sebarkan artikel ini
Wanita harus sering menangis agar tak terkena kanker dan autoimun, benarkah? Pernyataan ini menjadi perbincangan luas di media sosial setelah seorang dokter menyampaikan pandangannya
Wanita harus sering menangis agar tak terkena kanker dan autoimun, benarkah? Pernyataan ini menjadi perbincangan luas di media sosial setelah seorang dokter menyampaikan pandangannya

Wanita Harus Sering Menangis agar Tak Terkena Kanker dan Autoimun, Benarkah?

XJABAR.COM – Wanita harus sering menangis agar tak terkena kanker dan autoimun, benarkah? Pernyataan ini menjadi perbincangan luas di media sosial setelah seorang dokter menyampaikan pandangannya terkait hubungan antara emosi dan kesehatan fisik, khususnya pada perempuan.

Isu ini mencuat setelah unggahan di platform Threads menyebutkan, “Perempuan harus sering-sering nangis biar gak kena kanker sama autoimun,” yang kemudian mendapat tanggapan langsung dari dokter Qorry Amanda. Pernyataan tersebut memicu diskusi publik mengenai kaitan antara kondisi psikologis dan risiko penyakit serius.

Fenomena ini tidak hanya menjadi viral, tetapi juga membuka kembali pembahasan mengenai konsep psikoneuroimunologi, yaitu hubungan antara pikiran, sistem saraf, dan sistem kekebalan tubuh manusia.

Apa yang Disampaikan Dokter Qorry Amanda?

Pernyataan yang Viral di Media Sosial

Pernyataan awal yang memicu diskusi berasal dari unggahan akun Threads @zawhyfir yang menyebutkan:

“Perempuan harus sering-sering nangis biar gak kena kanker sama autoimun,” tulis akun tersebut pada Jumat, (20/3).

Menanggapi hal tersebut, dokter Qorry Amanda memberikan respons yang memperkuat pernyataan tersebut dari sudut pandang medis.

Penjelasan Berdasarkan Psikoneuroimunologi

Dokter Qorry menjelaskan bahwa ada hubungan antara kondisi emosional dengan sistem kekebalan tubuh. Ia mengaitkan hal ini dengan konsep psikoneuroimunologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *