Perbedaan Respons Stres Pria dan Wanita Dipengaruhi Faktor Biologis dan Psikologis
XJABAR.COM – Perbedaan respons stres pria dan wanita menjadi sorotan dalam berbagai penelitian ilmiah yang mengungkap bahwa faktor biologis, terutama hormon, memainkan peran penting dalam cara keduanya menghadapi tekanan. Sejumlah pakar neurobiologi dan psikologi menjelaskan bahwa meski pria dan wanita sama-sama mengalami peningkatan hormon stres saat tertekan, mekanisme lanjutan dalam tubuh mereka berbeda secara signifikan.
Mengutip laporan kesehatan yang dipublikasikan oleh WebMD pada 21 Januari 2026, para ahli menyebut ada tiga hormon utama yang berperan dalam respons stres, yakni kortisol, epinefrin, dan oksitosin. Ketiganya bekerja secara kompleks untuk mengatur reaksi tubuh terhadap tekanan, baik secara fisik maupun emosional.
Perbedaan ini tidak hanya memengaruhi reaksi biologis, tetapi juga membentuk pola perilaku sosial, cara mengelola emosi, hingga strategi menghadapi tuntutan hidup sehari-hari.
Apa yang Terjadi dalam Tubuh Saat Stres?
Peran Kortisol dan Epinefrin
Saat seseorang mengalami stres, tubuh secara otomatis mengaktifkan sistem respons darurat. Hormon kortisol dan epinefrin dilepaskan untuk meningkatkan tekanan darah, mempercepat detak jantung, serta menaikkan kadar gula dalam darah guna menyediakan energi cepat bagi tubuh.
Kortisol juga diketahui menekan sistem kekebalan tubuh sementara waktu, sehingga tubuh dapat memprioritaskan respons terhadap ancaman.
Profesor neurobiologi dari Stanford University, Robert Sapolsky, menjelaskan bahwa mekanisme dasar ini terjadi pada semua orang tanpa memandang jenis kelamin.
“Dulu, orang-orang mengira ada perbedaan jumlah kortisol yang dilepaskan selama situasi stres pada wanita. Pemikirannya adalah wanita melepaskan lebih banyak hormon ini,” ujar Sapolsky. Namun, menurutnya, tidak ada perbedaan konsisten dalam produksi kortisol antara pria dan wanita.
Oksitosin Jadi Faktor Pembeda
Faktor pembeda utama justru terletak pada hormon oksitosin. Pada wanita, ketika kadar kortisol dan epinefrin meningkat, otak juga melepaskan oksitosin dalam jumlah lebih besar dibandingkan pria.
Oksitosin dikenal sebagai hormon yang berperan dalam membangun kedekatan emosional, rasa empati, dan perilaku mengasuh. Hormon ini membantu menekan efek negatif hormon stres serta mendorong munculnya emosi yang lebih menenangkan.






