Psikolog Carl Pickhardt menjelaskan bahwa pria cenderung menciptakan jarak emosional dari masalah yang dihadapi. Mereka mungkin bersosialisasi saat berolahraga atau berkegiatan, tetapi jarang membicarakan tekanan secara mendalam.
Pengaruh Harga Diri dan Pencapaian Hidup
Pria dan Tekanan Performa
Menurut Pickhardt, perbedaan respons stres juga dipengaruhi oleh cara pria dan wanita membangun harga diri. Pada banyak pria, harga diri sering kali berkaitan dengan pencapaian, performa, dan keberhasilan kompetitif.
Akibatnya, kegagalan dalam pekerjaan, target karier, atau pencapaian pribadi dapat menjadi sumber stres utama.
Wanita dan Relasi Sosial
Sebaliknya, pada banyak wanita, harga diri lebih banyak dibangun dari kualitas hubungan interpersonal. Kehilangan hubungan atau konflik emosional dapat menjadi pemicu stres yang signifikan.
Perbedaan orientasi ini memperkuat pola respons stres yang berbeda, baik secara biologis maupun sosial.
Apakah Perbedaan Ini Mutlak?
Para ahli menegaskan bahwa meski terdapat kecenderungan umum, tidak semua pria atau wanita merespons stres dengan cara yang sama. Faktor budaya, pengalaman hidup, pola asuh, dan lingkungan sosial turut memengaruhi respons individu terhadap tekanan.
Selain itu, perkembangan kesadaran kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir membuat semakin banyak pria yang mulai terbuka dalam membicarakan emosi, serta semakin banyak wanita yang mengembangkan strategi coping berbasis aktivitas fisik.
Implikasi bagi Kesehatan Mental
Memahami perbedaan respons stres pria dan wanita penting untuk mengembangkan pendekatan kesehatan mental yang lebih efektif dan personal.
Pendekatan terapi, program manajemen stres, hingga kebijakan tempat kerja dapat dirancang dengan mempertimbangkan variasi biologis dan psikologis ini.
Misalnya, lingkungan kerja yang menyediakan ruang diskusi dan dukungan sosial dapat membantu sebagian karyawan, sementara fasilitas olahraga atau program relaksasi fisik dapat menjadi pilihan efektif bagi yang lain.
Kesimpulan
Perbedaan respons stres pria dan wanita dipengaruhi kombinasi faktor biologis, terutama hormon oksitosin, serta faktor psikologis dan sosial. Meski kortisol dan epinefrin bekerja serupa pada kedua jenis kelamin, mekanisme tambahan pada wanita melalui oksitosin mendorong pola “tend and befriend”, sementara pria lebih sering menunjukkan respons “fight or flight”.
Pemahaman ilmiah ini menunjukkan bahwa tidak ada satu cara universal dalam menghadapi stres. Setiap individu memiliki pola unik yang dipengaruhi oleh biologi, pengalaman, dan lingkungan sosial. Dengan memahami perbedaan ini, masyarakat dapat membangun strategi pengelolaan stres yang lebih inklusif dan efektif di era modern yang penuh tekanan.






