“Terlihat jelas adanya perpecahan dalam perdagangan saham bertema AI yang sebelumnya solid,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/2/2026).
Ia menambahkan bahwa ke depan akan terjadi dinamika tarik-menarik pada saham-saham berkapitalisasi besar di dalam indeks utama, tergantung bagaimana pasar menilai siapa yang akan menjadi pemenang dan siapa yang tertinggal dalam perlombaan AI.
Artinya, tidak semua perusahaan teknologi akan menikmati keuntungan yang sama dari revolusi kecerdasan buatan. Investor kini lebih selektif dan berhati-hati.
Dampak Meluas ke Sektor Keuangan dan Asuransi
Startup AI Guncang Perusahaan Jasa Keuangan
Guncangan pasar tidak hanya dirasakan sektor teknologi. Sejumlah perusahaan jasa keuangan juga terdampak setelah startup meluncurkan fitur perencanaan pajak berbasis AI yang dinilai lebih efisien dan terjangkau.
Saham Charles Schwab, LPL Financial, dan Raymond James Financial tercatat turun masing-masing sekitar 7%. Peluncuran solusi digital berbasis AI dinilai berpotensi menggerus pangsa pasar perusahaan keuangan tradisional.
Investor melihat adanya ancaman disrupsi model bisnis lama, terutama pada layanan konsultasi keuangan dan perencanaan pajak yang kini bisa dilakukan secara otomatis melalui teknologi.
Sektor Asuransi Ikut Terseret
Di sektor asuransi, tekanan juga terlihat pada saham Willis Towers Watson dan Arthur J. Gallagher. Keduanya ikut mengalami penurunan harga saham seiring kekhawatiran bahwa AI akan mengubah cara penilaian risiko dan distribusi produk asuransi.
Meski teknologi dapat meningkatkan efisiensi, pasar menilai perubahan cepat ini menimbulkan ketidakpastian terhadap margin keuntungan dan struktur biaya perusahaan.
Indeks S&P 500 Masih Bertahan, Tapi Volatilitas Meningkat
Kenaikan Tipis di Tengah Tekanan
Indeks S&P 500 masih mencatat kenaikan tipis sepanjang tahun ini dan bertahan di dekat rekor tertinggi. Namun di balik stabilitas tersebut, volatilitas pasar meningkat tajam.
Data menunjukkan bahwa saham-saham yang mengalami pelemahan di dalam indeks tersebut rata-rata turun lebih dalam dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap sentimen negatif.






