“Ini yang ingin kita tunjukkan, segala sesuatu harus terinspirasi dari prinsip bottom-up, dari bawah,” ujarnya.
Dari 30 kecamatan di Kota Bandung, Pemkot melakukan kurasi untuk memilih penampilan yang dinilai sesuai untuk ditampilkan dalam karnaval.
Farhan mengatakan, kegiatan ini terinspirasi dari budaya dan inisiatif masyarakat, sehingga kreativitas yang tumbuh di tingkat wilayah menjadi bagian dari perayaan kota.
Ia juga menyoroti keberagaman ekspresi budaya masyarakat, termasuk penampilan warga Kecamatan Mandalajati yang mengusung nuansa budaya Tionghoa melalui busana merah dan tetap memadukannya dengan identitas masyarakat setempat.
“Mandalajati itu semuanya bergaya China. Bajunya merah semua, tapi perempuannya semua pakai hijab,” jelasnya
Melalui Karnaval Jampana, Pemkot Bandung ingin menjadikan peringatan HJKB bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga ruang bagi warga untuk menampilkan identitas budaya, memperkuat kebersamaan, serta berpartisipasi dalam membangun kota.
Perayaan ini sekaligus menegaskan bahwa kemeriahan Hari Jadi Kota Bandung dapat diwujudkan melalui tradisi, gotong royong dan kreativitas yang tumbuh dari masyarakat. (Ipung)**






