Teknologi

AI Jadi Pesaing Baru Lulusan Hukum dan Kedokteran, Eks Petinggi Google Soroti Ancaman Gelar Tinggi

15
×

AI Jadi Pesaing Baru Lulusan Hukum dan Kedokteran, Eks Petinggi Google Soroti Ancaman Gelar Tinggi

Sebarkan artikel ini
AI jadi pesaing baru lulusan hukum dan kedokteran seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang kini mampu mengerjakan tugas-tugas profesional secara cepat dan akurat.
AI jadi pesaing baru lulusan hukum dan kedokteran seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang kini mampu mengerjakan tugas-tugas profesional secara cepat dan akurat.

AI Jadi Pesaing Baru Lulusan Hukum dan Kedokteran, Eks Petinggi Google Soroti Ancaman Gelar Tinggi

XJABAR.COM – AI jadi pesaing baru lulusan hukum dan kedokteran seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang kini mampu mengerjakan tugas-tugas profesional secara cepat dan akurat. Peringatan ini disampaikan oleh Jad Tarifi, mantan petinggi Google yang kini menjabat sebagai CEO startup AI Integral, yang menilai bahwa gelar hukum, kedokteran, hingga doktoral (Ph.D.) tidak lagi menjadi jaminan karier aman di masa depan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kemampuan model bahasa besar atau large language models (LLM) seperti ChatGPT dalam menuntaskan berbagai tugas berbasis analisis teks, logika, dan pengenalan pola. Bahkan, sejumlah model AI generasi terbaru dilaporkan mampu lulus ujian sertifikasi pengacara dan lisensi medis di Amerika Serikat dengan nilai melampaui rata-rata manusia.

Siapa Jad Tarifi dan Mengapa Pernyataannya Disorot?

Mantan Petinggi Google dan Pendiri Tim AI Generatif

Jad Tarifi dikenal sebagai mantan eksekutif di Google serta pendiri tim kecerdasan buatan generatif pertama di perusahaan tersebut. Saat ini, ia menjabat sebagai CEO Integral, startup yang berfokus pada pengembangan teknologi AI.

Dengan latar belakang tersebut, pandangannya terhadap masa depan profesi hukum dan kedokteran dinilai memiliki bobot signifikan. Dalam wawancaranya yang dikutip oleh Fortune, Tarifi menyatakan bahwa sistem pendidikan formal, khususnya di bidang hukum dan medis, masih sangat bergantung pada metode hafalan dan pengenalan pola.

Gelar Tinggi Tidak Lagi Menjamin Keamanan Finansial

Tarifi secara terbuka menyebut bahwa gelar hukum, kedokteran, dan Ph.D. berpotensi terancam oleh perkembangan AI. Menurutnya, nilai dari sekadar “mengetahui informasi” kini mendekati nol karena AI dapat mengakses dan memproses data dalam skala besar dalam hitungan detik.

Jika sebelumnya gelar lanjutan identik dengan pekerjaan bergaji enam digit, kini jaminan tersebut mulai memudar. Ia menilai bahwa motivasi generasi muda dalam mengejar pendidikan tinggi perlu ditinjau ulang, terutama jika tujuan utamanya adalah keamanan finansial.

Bagaimana AI Mengambil Alih Tugas Dasar Hukum dan Kedokteran?

Otomatisasi Tugas Rutin Pengacara dan Dokter Muda

Menurut Tarifi, pekerjaan dasar seorang pengacara junior umumnya berkutat pada memilah dokumen hukum, mencari preseden kasus, dan menganalisis teks hukum dalam jumlah besar. Di sisi lain, dokter muda sering menangani diagnosis awal berdasarkan gejala klinis standar dan referensi buku teks medis.

Tugas-tugas semacam ini sangat bergantung pada kemampuan menghafal, mengenali pola, dan mengakses informasi dengan cepat—kemampuan yang kini dapat dilakukan oleh model AI secara lebih efisien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *