Dokter Saraf Anak UI: Screen Time Baru Boleh Usia 2 Tahun, Maksimal 1 Jam Sehari
XJABAR.COM – Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak lulusan Universitas Indonesia, dr. R. R. Amanda Soebadi, Sp.A(K), M.Med (ClinNeurophysiol), menegaskan bahwa anak sebaiknya baru dikenalkan pada screen time setelah usia dua tahun — dengan durasi tidak lebih dari satu jam per hari — sambil menekankan bahwa pendampingan aktif orangtua adalah syarat yang tidak bisa ditawar.
Pernyataan ini disampaikan Amanda dalam keterangan yang dikutip dari ANTARA, Kamis (30/4/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran soal dampak paparan layar terhadap tumbuh kembang anak.
Screen Time Bukan Hanya Soal Ponsel
Sebelum membahas batasan, Amanda meluruskan satu kesalahpahaman yang umum terjadi di kalangan orangtua.
“Screen time itu tidak harus HP ya, sama saja dengan tablet, televisi itu juga screen time,” ujarnya.
Ponsel, tablet, dan televisi masuk dalam kategori yang sama. Artinya, membiarkan anak menonton kartun di televisi selama berjam-jam tetap terhitung sebagai screen time dengan konsekuensi yang setara — bukan solusi yang lebih aman hanya karena bukan ponsel.
Usia Dua Tahun dan Batas Satu Jam: Mengapa Angka Ini Penting
Batasan usia dan durasi yang Amanda rekomendasikan bukan angka sembarang. Otak anak pada usia dini — khususnya di bawah dua tahun — sedang menjalani fase perkembangan yang paling intensif dalam seumur hidup. Koneksi antar-neuron terbentuk dengan kecepatan yang tidak akan pernah terulang setelah periode ini berlalu.
Paparan layar yang terlalu dini dan berlebihan berisiko membuat anak berkembang menjadi penonton pasif. Kemampuan komunikasi dan interaksi sosial — yang seharusnya dibangun melalui percakapan, kontak mata, dan bermain fisik — bisa terhambat jika waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas itu justru diisi dengan stimulasi visual satu arah dari layar.
Jika anak sudah terpapar screen time sebelum usia dua tahun, maka pengawasan aktif orangtua atau pengasuh menjadi kewajiban, bukan pilihan.
Pendampingan Bukan Sekadar Duduk di Sebelah Anak
Salah satu poin yang Amanda tekankan adalah soal kualitas pendampingan. Banyak orangtua merasa sudah menjalankan peran pengawasan hanya dengan berada di ruangan yang sama saat anak menonton.
Pendampingan yang dimaksud jauh lebih aktif dari sekadar kehadiran fisik. Orangtua perlu mengajak anak berbicara tentang apa yang sedang dilihat — mengomentari cerita, bertanya tentang tokoh, atau menghubungkan tayangan dengan pengalaman nyata anak.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.





