Lifestyle

Batas Screen Time Anak Menurut Dokter: Usia, Durasi, dan Cara Mendampingi

15
×

Batas Screen Time Anak Menurut Dokter: Usia, Durasi, dan Cara Mendampingi

Sebarkan artikel ini
Dokter spesialis neurologi anak dr. Amanda Soebadi jelaskan batas aman screen time: mulai usia 2 tahun, maksimal 1 jam sehari, dengan pendampingan aktif orangtua.
Dokter spesialis neurologi anak dr. Amanda Soebadi jelaskan batas aman screen time: mulai usia 2 tahun, maksimal 1 jam sehari, dengan pendampingan aktif orangtua.

Dengan cara ini, anak tidak hanya menjadi penerima pasif konten visual, tetapi tetap terlibat secara kognitif dan emosional selama sesi screen time berlangsung.

Amanda juga menyarankan agar orangtua menetapkan tujuan yang jelas sebelum memberikan screen time kepada anak — apakah untuk hiburan, belajar, atau istirahat. Tanpa tujuan yang terartikulasi, screen time mudah bergeser menjadi kebiasaan tanpa batas yang sulit dikendalikan.

Konsistensi Durasi: Matikan Layar Setelah Episode Selesai

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi orangtua adalah menghentikan sesi screen time tanpa konflik. Amanda menekankan bahwa konsistensi adalah kuncinya.

Jika satu episode kartun berdurasi 30 menit, maka setelah selesai, televisi sebaiknya langsung dimatikan — bukan dilanjutkan dengan memilih episode berikutnya atau berpindah ke konten lain.

Kebiasaan menggulir tayangan secara cepat dan tanpa henti, seperti yang sering terjadi di platform video streaming, perlu dihindari secara khusus. Pola konsumsi konten yang berubah setiap beberapa detik melatih otak anak untuk mengharapkan stimulasi instan — dan dalam jangka panjang, ini dapat mengikis kemampuan fokus serta perhatian yang berkelanjutan.

Aktivitas Pengganti Wajib Disiapkan Sebelumnya

Menghentikan screen time secara tiba-tiba tanpa menyiapkan alternatif adalah kesalahan yang sering dilakukan orangtua, dan hasilnya sering kali adalah tangisan atau negosiasi yang melelahkan.

Amanda memberikan panduan yang konkret: siapkan aktivitas pengganti yang interaktif dan berkualitas sebelum sesi layar berakhir.

Beberapa contoh yang dianjurkan antara lain bermain puzzle, menyusun balok, atau mengobrol santai saat makan bersama keluarga. Aktivitas-aktivitas ini terbukti lebih efektif dalam merangsang perkembangan otak anak karena sifatnya yang dua arah dan membutuhkan respons aktif.

“Tidak bisa hanya gadget-nya diambil, lalu anak dibiarkan begitu saja. Harus ada kegiatan pengganti yang interaktif,” jelas dr. Amanda.

Bahaya Televisi Menyala Sepanjang Hari

Satu kebiasaan yang sering dianggap tidak berbahaya — menyalakan televisi sebagai “teman” di rumah sepanjang hari — ternyata juga menjadi perhatian serius Amanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *