Teknologi

Amerika Serikat dan China Ambil Sikap Sama, Dunia Terbelah Soal Aturan AI Militer

93
×

Amerika Serikat dan China Ambil Sikap Sama, Dunia Terbelah Soal Aturan AI Militer

Sebarkan artikel ini
Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan global setelah mengambil sikap yang sama dalam isu sensitif penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor militer.
Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan global setelah mengambil sikap yang sama dalam isu sensitif penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor militer.

Amerika Serikat dan China kembali menjadi pusat perhatian dunia internasional

XJABAR.COM – Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan global setelah mengambil sikap yang sama dalam isu sensitif penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor militer. Dua kekuatan ekonomi dan militer terbesar dunia tersebut secara mengejutkan memilih tidak menandatangani deklarasi internasional yang bertujuan mengatur penerapan AI di medan perang, meskipun selama ini keduanya dikenal sebagai rival geopolitik utama.

Keputusan tersebut mencuat dalam Konferensi Tingkat Tinggi Responsible AI in the Military Domain (REAIM) yang digelar di A Coruña, Spanyol, pada pekan ini. Dalam forum tersebut, hanya 35 dari 85 negara peserta yang sepakat menandatangani komitmen bersama terkait prinsip penggunaan AI secara bertanggung jawab dalam konteks militer.

Paradoks AS dan China di Tengah Perlombaan AI Militer

Rival global, sikap serupa

Amerika Serikat dan China selama bertahun-tahun terlibat dalam perang dagang, persaingan teknologi, serta perlombaan supremasi AI. Namun, dalam isu pengaturan AI militer, keduanya justru berada di sisi yang sama—menolak pendekatan deklaratif yang dinilai dapat membatasi ruang gerak strategis masing-masing negara.

Ironisnya, kedua negara ini juga merupakan pengguna dan pengembang AI militer paling agresif di dunia. AI telah diintegrasikan ke dalam sistem persenjataan, pengintaian, analisis data intelijen, hingga sistem komando dan kendali yang semakin otonom.

Kekhawatiran kehilangan keunggulan strategis

Sejumlah analis menilai penolakan AS dan China tidak lepas dari kekhawatiran bahwa komitmen internasional, meskipun tidak mengikat secara hukum, dapat menjadi preseden yang membatasi pengembangan teknologi militer mereka di masa depan.

Dalam konteks geopolitik yang semakin multipolar, setiap pembatasan dianggap berpotensi melemahkan posisi strategis, terutama ketika negara rival seperti Rusia juga bergerak cepat dalam pengembangan AI militer.

35 Negara Sepakat, Dunia Terbelah

Komitmen minoritas dengan pesan kuat

Berbanding terbalik dengan sikap AS dan China, sekitar sepertiga negara peserta KTT REAIM memilih menandatangani deklarasi yang memuat 20 prinsip utama terkait penggunaan AI di domain militer. Meski jumlahnya minoritas, negara-negara ini sebagian besar berasal dari blok Barat dan sekutunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *