Lifestyle

Minggu Pertama Jadi Titik Tersulit, Angga Berhasil Turunkan 53 Kg dengan Ubah Kebiasaan

66
×

Minggu Pertama Jadi Titik Tersulit, Angga Berhasil Turunkan 53 Kg dengan Ubah Kebiasaan

Sebarkan artikel ini
Pramuda Angga Aditya berhasil turunkan 53 kg dan ungkap minggu pertama diet sebagai fase terberat.
Pramuda Angga Aditya berhasil turunkan 53 kg dan ungkap minggu pertama diet sebagai fase terberat.

XJABAR.COM – Pramuda Angga Aditya mengakui bahwa fase paling menyiksa dari perjalanan dietnya bukan soal lapar—melainkan soal melepaskan kebiasaan lama yang sudah bertahun-tahun terasa nyaman. Dalam wawancara bersama Kompas.com pada Rabu, 15 April 2026, pria yang berhasil menurunkan berat badan hingga 53 kilogram ini menceritakan lika-liku proses transformasi tubuh yang tidak pernah berjalan lurus.

Kebiasaan Lama yang Harus Ditinggalkan

Sebelum memulai perubahan gaya hidup, keseharian Angga dipenuhi oleh rutinitas yang akrab bagi banyak orang Indonesia: es kopi susu setiap hari, makanan tinggi gula, dan kebiasaan menambah porsi nasi dalam sekali makan. Semua itu bukan sekadar pilihan konsumsi—melainkan ritual harian yang sudah mengakar.

Saat diet dimulai, semua itu harus berhenti sekaligus. Tidak bertahap, tidak perlahan—berubah.

“Tantangan terberat itu shifting lifestyle, semua kebiasaan lama harus diubah,” ujar Angga.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung beban yang berat. Mengubah pola makan bukan hanya soal mengganti menu—ia menyentuh ritme hidup, respons emosional terhadap makanan, dan identitas sehari-hari yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Rasa Tidak Nyaman yang Tidak Bisa Dihindari

Angga tidak mencoba menyangkal ketidaknyamanan yang ia rasakan di awal proses. Menahan diri dari makanan favorit, mengubah pola tidur, dan membangun rutinitas baru semuanya menciptakan gesekan yang nyata—baik secara fisik maupun mental.

Yang menarik adalah cara Angga memaknai rasa tidak nyaman itu. Bukan sebagai sinyal bahwa sesuatu salah, melainkan sebagai konfirmasi bahwa sesuatu sedang berubah.

“Ketidaknyamanan itu bukan hal yang harus dihindari, tapi bagian dari proses menuju kondisi yang lebih baik,” kata Angga.

Perspektif ini yang membantunya bertahan saat dorongan untuk kembali ke kebiasaan lama terasa paling kuat.

Ujian dari Lingkungan Kerja

Tantangan tidak hanya datang dari dalam diri. Angga menghadapi ujian nyata di lingkungan kerjanya—momen-momen seperti rekan yang berulang tahun, meja penuh donat, atau bungkusan martabak yang dibawa masuk ke kantor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *