2. Gen Z: Bangun Alur Kerja hingga Integrasi File Pribadi
Sebaliknya, pengguna dari kalangan Gen Z mengeksplorasi ChatGPT jauh lebih dalam. Mereka tidak hanya sekadar bertanya, tetapi mengintegrasikan chatbot ke dalam aktivitas harian mereka.
Beberapa kebiasaan produktivitas Gen Z yang disorot meliputi:
-
Menghubungkan File Pribadi: Mengunggah dokumen atau data untuk mempercepat pengelolaan tugas dan produksi konten.
-
Menyimpan Prompt Khusus: Menggunakan rangkaian perintah kustom agar respons AI sesuai dengan gaya dan kebutuhan spesifik mereka.
-
Membangun Alur Kerja (Workflow): Menjadikan ChatGPT sebagai lapisan produktivitas harian yang terpersonalisasi.
3. Jadi “Penasihat Hidup”: Gen Z dan Konsultasi Personal
Hal paling mengejutkan yang disorot Altman adalah bagaimana Gen Z menjadikan ChatGPT sebagai konsultan pribadi untuk keputusan-keputusan besar. Bukan lagi sebatas pekerjaan teknis, melainkan pilihan personal yang krusial seperti arah karier, dilema hubungan asmara, hingga perencanaan masa depan.
Data internal OpenAI menunjukkan bahwa kelompok usia kuliah (18–24 tahun) di Amerika Serikat merupakan salah satu basis pengguna paling aktif, dengan proporsi lebih dari sepertiga populasi usia tersebut mengandalkannya secara rutin. Fitur memori percakapan membuat AI mampu mengenali konteks dan preferensi pengguna dari waktu ke waktu, sehingga interaksinya terasa seperti “teman yang tahu segalanya” dan tidak menghakimi.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.





