2. Slow Living dan Mindful Consumption: Perlawanan terhadap Ritme Serba Cepat
Generasi Muda Memilih Pelan tapi Bermakna
Tren slow living semakin populer, terutama di kalangan Gen Z dan milenial urban yang mulai merasa jenuh dengan ritme hidup yang serba cepat dan penuh tekanan. Slow living bukan berarti malas-malasan, tapi lebih kepada menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan tidak terburu-buru.
Orang-orang yang menerapkan pendekatan ini cenderung lebih fokus pada kualitas pengalaman daripada volume aktivitas, baik dalam pekerjaan, relasi, maupun waktu untuk diri sendiri.
Belanja Lebih Bijak, Bukan Lebih Banyak
Gaya hidup konsumtif perlahan mulai ditinggalkan. Kini banyak orang mulai menerapkan mindful consumption—membeli barang atau jasa dengan lebih bijak, sadar, dan penuh pertimbangan. Mereka tidak lagi mudah tergoda diskon atau tren semata, tetapi mempertanyakan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan.
Tekanan ekonomi global dan naiknya biaya hidup sepanjang 2025 mendorong banyak orang untuk mengubah cara mereka berbelanja. Gaya hidup minimalis kembali populer, dengan fokus pada kebutuhan esensial dan kualitas dibanding kuantitas. Masyarakat mulai mengurangi belanja impulsif dan lebih selektif memilih produk yang tahan lama, multifungsi, serta ramah lingkungan.
Digital Minimalism: Puasa Gadget di Era Konektivitas
Meski dunia makin digital, banyak orang justru memilih untuk ‘puasa gadget’ secara berkala. Digital minimalism adalah tren gaya hidup di mana seseorang membatasi penggunaan teknologi digital hanya untuk hal-hal penting. Tujuannya bukan hanya mengurangi screen time, tetapi juga menghindari stres, kecemasan, dan distraksi berlebih akibat terlalu banyak informasi.
Ini menarik, mengingat laporan We Are Social yang dirilis pada November 2025 mencatat rata-rata orang Indonesia menghabiskan 37 jam 20 menit per minggu online—lebih dari 5 jam per hari, jauh di atas rata-rata global. Sebanyak 98% pengguna internet Indonesia mengakses lewat smartphone.
3. Gaya Hidup Digital: Belanja Online sebagai Rutinitas
E-Commerce Bukan Lagi Darurat, Tapi Kebiasaan
Belanja daring telah bertransformasi dari kebutuhan situasional menjadi bagian integral dari gaya hidup harian. CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera, menyebut eCommerce kini bertransformasi dari sekadar platform transaksi menjadi fondasi kepercayaan antara konsumen dan brand.
Konsumen saat ini jauh lebih matang dan rasional. Belanja online bukan lagi soal impuls, melainkan bagian dari gaya hidup untuk meningkatkan kualitas hidup. Kategori elektronik, furnitur, dan produk kesehatan menjadi segmen yang tumbuh paling konsisten.
Proyeksinya pun ambisius. Tahun 2026 diperkirakan menjadi era emas bagi perkembangan e-commerce Indonesia, dengan jumlah pengguna diproyeksikan mencapai 230 juta dan nilai transaksi menembus Rp 2.200 triliun. Kategori fashion dan aksesori masih menjadi favorit dengan kontribusi lebih dari 25% transaksi.
Gen Z: Pengalaman adalah Kebutuhan, Bukan Kemewahan
Melansir ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025 dari UOB, para Gen Z menjadi katalisator utama konsumsi ekonomi pengalaman, dengan kontribusi lebih dari 50% dari total yang ada, padahal jumlah Gen Z dalam survei tersebut hanya 31%.
Fakta ini mengungkap pergeseran mendasar: generasi muda tidak lagi mengukur kualitas hidup dari kepemilikan barang. Dorongan transaksi mereka bukan lagi pada kepemilikan barang, melainkan pada emosi dan ingatan yang dihasilkan dari konsumsi. Pergi ke konser, makan di restoran baru, atau traveling ke destinasi unik—semua itu kini masuk kategori “kebutuhan.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.





