Teknologi

Apple Akuisisi Startup AI Pelacak Wajah Israel Senilai Rp 33,5 Triliun, Ini Dampaknya

102
×

Apple Akuisisi Startup AI Pelacak Wajah Israel Senilai Rp 33,5 Triliun, Ini Dampaknya

Sebarkan artikel ini
Apple beli perusahaan AI pelacak wajah dari Israel dalam sebuah langkah strategis besar yang kembali menegaskan ambisi raksasa teknologi asal Cupertino tersebut di bidang kecerdasan buatan.
Apple beli perusahaan AI pelacak wajah dari Israel dalam sebuah langkah strategis besar yang kembali menegaskan ambisi raksasa teknologi asal Cupertino tersebut di bidang kecerdasan buatan.

Selain itu, teknologi ini juga diyakini dapat diterapkan pada FaceTime, proyek kacamata pintar, serta headset mixed reality Apple yang sedang dikembangkan. Integrasi tersebut dapat meningkatkan kualitas interaksi pengguna secara signifikan, terutama dalam komunikasi jarak jauh.

Pernyataan Resmi Apple soal Akuisisi Q.ai

Johny Srouji: Q.ai Perusahaan yang Visioner

Akuisisi ini dikonfirmasi langsung oleh Johny Srouji, Wakil Presiden Senior Teknologi Perangkat Keras Apple sekaligus eksekutif Israel paling senior di perusahaan tersebut. Dalam pernyataannya kepada media Israel Ynet News, Srouji memuji Q.ai sebagai perusahaan yang inovatif dan visioner.

“Q adalah perusahaan yang luar biasa yang memelopori cara-cara baru dan kreatif dalam memanfaatkan teknologi pencitraan serta pembelajaran mesin,” ujar Srouji, dikutip dari Gizmodo.

Ia juga menambahkan bahwa Apple sangat antusias dengan potensi kolaborasi jangka panjang yang akan lahir dari akuisisi tersebut, terutama di bidang teknologi perangkat keras dan AI.

Peran Sentral Aviad Maizels

Dalam pernyataannya, Srouji secara khusus menyebut Aviad Maizels, salah satu pendiri Q.ai, sebagai sosok kunci di balik kesuksesan startup tersebut. Bagi Apple, Maizels bukanlah nama asing.

Aviad Maizels memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan teknologi sensor dan pencitraan 3D, yang sebelumnya telah memberikan kontribusi besar bagi Apple.

Jejak Panjang Aviad Maizels Bersama Apple

Dari PrimeSense hingga Face ID

Sebelum mendirikan Q.ai, Aviad Maizels dikenal sebagai pendiri PrimeSense, sebuah perusahaan sensor 3D yang didirikan pada 2005. Teknologi PrimeSense sempat digunakan oleh Microsoft untuk sistem pengendali gerak Xbox Kinect, yang kala itu dianggap revolusioner.

Pada tahun 2013, Apple mengakuisisi PrimeSense. Teknologi sensor 3D dari perusahaan tersebut kemudian menjadi fondasi utama pengembangan Face ID, sistem autentikasi pengenalan wajah Apple yang resmi diperkenalkan pada 2017.

Face ID hingga kini menjadi salah satu fitur keamanan paling ikonik di lini iPhone dan iPad. Setelah beberapa tahun bekerja di Apple pasca-akuisisi PrimeSense, Maizels memutuskan keluar dan mendirikan Q.ai sebagai startup independen, sebelum akhirnya kembali bergabung melalui akuisisi terbaru ini.

Strategi Apple Mempertahankan Talenta Kunci

Akuisisi Q.ai memperlihatkan pola yang konsisten dari Apple, yakni tidak hanya membeli teknologi, tetapi juga mengamankan talenta terbaik di industri. Dengan kembali bergabungnya Maizels dan tim Q.ai, Apple memperkuat posisi riset dan pengembangan AI berbasis pencitraan manusia.

Kontroversi di Balik Akuisisi Q.ai

Potensi Penolakan Internal di Apple

Di balik nilai strategis dan teknologi canggih yang diperoleh, akuisisi ini diperkirakan tidak sepenuhnya diterima dengan mulus di internal Apple. Selama beberapa tahun terakhir, sebagian karyawan Apple secara terbuka mendorong perusahaan untuk mengurangi atau menghentikan investasi di Israel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *