Teknologi

Eks Eksekutif Google Soroti Dampak AI: Gelar Hukum dan Kedokteran Dinilai Terancam Relevansinya

86
×

Eks Eksekutif Google Soroti Dampak AI: Gelar Hukum dan Kedokteran Dinilai Terancam Relevansinya

Sebarkan artikel ini
Eks eksekutif Google sebut gelar hukum dan kedokteran bisa ketinggalan zaman akibat AI menjadi perbincangan luas di kalangan akademisi dan industri teknologi global.
Eks eksekutif Google sebut gelar hukum dan kedokteran bisa ketinggalan zaman akibat AI menjadi perbincangan luas di kalangan akademisi dan industri teknologi global.

Eks Eksekutif Google Sebut Gelar Hukum dan Kedokteran Bisa Ketinggalan Zaman Akibat AI

XJABAR.COM – Eks eksekutif Google sebut gelar hukum dan kedokteran bisa ketinggalan zaman akibat AI menjadi perbincangan luas di kalangan akademisi dan industri teknologi global. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Jad Tarifi, pendiri tim AI generatif pertama di Google, dalam wawancara dengan Business Insider yang kemudian dikutip oleh Fortune pada 15 Februari 2026.

Tarifi memperingatkan bahwa jalur pendidikan tradisional seperti hukum dan kedokteran, yang membutuhkan waktu studi panjang hingga hampir satu dekade, berisiko tertinggal oleh laju perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang sangat cepat. Ia menilai percepatan inovasi teknologi dapat membuat sebagian materi dan pendekatan konvensional menjadi usang sebelum mahasiswa menyelesaikan studi mereka.

Siapa Jad Tarifi dan Mengapa Pernyataannya Disorot?

Latar Belakang di Dunia AI

Jad Tarifi dikenal sebagai salah satu pionir dalam pengembangan AI generatif di Google. Ia memiliki latar belakang PhD di bidang kecerdasan buatan dan pernah memimpin tim yang mengembangkan teknologi AI di perusahaan teknologi raksasa tersebut.

Sebagai praktisi yang terlibat langsung dalam inovasi AI, pandangan Tarifi mendapat perhatian karena mencerminkan perspektif orang dalam (insider) mengenai arah perkembangan teknologi dan implikasinya terhadap dunia pendidikan serta pasar kerja global.

Konteks Wawancara

Dalam wawancara tersebut, Tarifi menyatakan bahwa bahkan gelar PhD sekalipun berpotensi kehilangan relevansi jika inovasi AI terus berkembang dalam kecepatan eksponensial.

“AI sendiri akan hilang saat Anda menyelesaikan gelar PhD. Bahkan hal-hal seperti penerapan AI pada robotika akan terpecahkan saat itu,” ujarnya.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa siklus inovasi teknologi kini jauh lebih cepat dibandingkan siklus pendidikan formal.

Mengapa Gelar Hukum dan Kedokteran Dianggap Rentan?

Durasi Pendidikan yang Panjang

Program pendidikan hukum dan kedokteran dikenal memakan waktu lama. Untuk menjadi dokter atau pengacara profesional, mahasiswa harus menjalani pendidikan akademik, pelatihan praktik, hingga sertifikasi yang bisa memakan waktu 7 hingga 10 tahun.

Menurut Tarifi, dalam rentang waktu tersebut, teknologi AI dapat berkembang sedemikian cepat sehingga sebagian proses analisis, diagnosis, atau riset hukum yang sebelumnya dilakukan manusia berpotensi diotomatisasi.

Ketergantungan pada Hafalan

Tarifi juga menyoroti metode pendidikan tradisional yang masih banyak mengandalkan hafalan dan penguasaan teori. Ia berpendapat bahwa pendekatan tersebut kurang relevan di era AI, di mana informasi dapat diakses secara instan melalui sistem cerdas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *