Zuly mengatakan sekitar 300 mahasiswa sempat berkumpul di sekitar rektorat. Meski suasana cukup tegang, pihak kampus memastikan tidak terjadi tindakan kekerasan terhadap anggota intel tersebut.
“Kami sejak awal meminta mahasiswa tetap menjaga ketertiban, tidak melakukan kekerasan maupun penghinaan kepada siapa pun,” ujarnya, Kamis 18 Juli 2026.
Mahasiswa kemudian meminta anggota tersebut memperkenalkan identitas, pangkat, dan kesatuannya. Tak lama berselang, pimpinan anggota intel tersebut datang ke kampus dan menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa serta pihak universitas.
“Kehadiran aparat di lingkungan kampus seharusnya dilakukan secara terbuka dan melalui mekanisme yang jelas. Tindakan memotret mahasiswa tanpa penjelasan dapat menimbulkan rasa takut dan kecurigaan,” ucap Zuly.






