Lifestyle

Kebiasaan Makan Anak Ditentukan Sejak Hamil, Dokter Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi

95
×

Kebiasaan Makan Anak Ditentukan Sejak Hamil, Dokter Ungkap Kesalahan yang Sering Terjadi

Sebarkan artikel ini
Pola makan anak dibentuk sejak kehamilan dan tidak muncul secara tiba-tiba ketika anak mulai memilih makanan atau menolak menu tertentu.
Pola makan anak dibentuk sejak kehamilan dan tidak muncul secara tiba-tiba ketika anak mulai memilih makanan atau menolak menu tertentu.

Sebaliknya, pola makan ibu yang monoton, tidak teratur, atau terlalu sering mengonsumsi makanan instan berisiko membuat anak lebih sensitif terhadap rasa dan tekstur tertentu.

Kesalahan Umum Orangtua Saat Memulai MPASI

Terlalu Dini Mengenalkan Rasa Manis

Kesalahan berikutnya yang kerap terjadi adalah memperkenalkan rasa manis terlalu awal ketika anak mulai MPASI. Menurut dr. Mesty, rasa manis merupakan rasa paling mudah diterima oleh anak karena memberikan sensasi nyaman.

“Rasa manis itu sesuatu yang comfortable buat anak. Jadi kalau dari awal sudah dikenalkan manis, ketika dikasih makanan gurih seperti bubur ati ayam, anak cenderung menolak,” jelasnya.

Pengenalan rasa manis secara berlebihan sejak dini dapat membentuk preferensi rasa yang tidak seimbang dan menyulitkan orangtua saat ingin memperkenalkan makanan bergizi lain yang rasanya lebih kompleks.

Dampak Jangka Panjang Preferensi Rasa

Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada fase MPASI, tetapi juga berlanjut hingga anak tumbuh besar. Anak yang terbiasa dengan rasa manis cenderung:

  • Menolak makanan gurih atau pahit
  • Lebih menyukai camilan tinggi gula
  • Berisiko mengalami masalah gizi di kemudian hari

Pemberian Camilan yang Mengganggu Penerimaan Tekstur

Biskuit dan Kerupuk Bukan Solusi

Selain rasa, tekstur makanan juga memainkan peran penting dalam perkembangan pola makan anak. Dr. Mesty menyoroti kebiasaan memberi makanan ringan seperti biskuit, keripik, atau kerupuk sebagai “penyelamat” ketika anak sulit makan.

Menurutnya, kebiasaan ini justru dapat menghambat kemampuan anak menerima tekstur makanan yang sesuai dengan tahap usianya.

Risiko Anak Menjadi Picky Eater

Anak yang terlalu sering diberi camilan renyah atau instan cenderung:

  • Menolak makanan bertekstur lunak atau kasar
  • Kesulitan beradaptasi dengan makanan keluarga
  • Memiliki preferensi sempit terhadap jenis makanan tertentu

Hal ini membuat proses makan menjadi lebih menantang dan berpotensi menimbulkan konflik antara anak dan orangtua.

Prinsip “Yang Penting Masuk” Perlu Dikoreksi

Kuantitas Tidak Selalu Menjamin Kualitas

Dr. Mesty juga menyoroti pola pikir sebagian orangtua yang terlalu fokus pada jumlah makanan yang masuk, tanpa memperhatikan kualitas gizi.

“Banyak orangtua yang berpikir, enggak apa-apa makan apa saja, yang penting masuk dan berat badan naik,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *