4. Diet Atlantik
Berasal dari wilayah pesisir Spanyol dan Portugal, Diet Atlantik menekankan konsumsi ikan, makanan laut segar, sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Metode memasaknya tetap sederhana — memanggang atau mengukus dengan minyak zaitun.
Penelitian menunjukkan pola makan ini dapat mengurangi risiko sindrom metabolik.
5. Intermittent Fasting
Berbeda dari pendekatan lain yang berfokus pada jenis makanan, intermittent fasting mengatur waktu makan. Pola paling populer adalah 16:8 — berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela delapan jam.
Beberapa studi menunjukkan metode ini efektif untuk penurunan berat badan, meskipun hasilnya bervariasi dibandingkan pembatasan kalori konvensional.
6. Diet Volumetrics
Diet ini berfokus pada makanan yang rendah kalori namun tinggi volume, seperti sayuran non-tepung, buah-buahan, dan sup berbasis kaldu.
Prinsipnya: makan lebih banyak secara porsi, tetapi dengan kalori yang jauh lebih sedikit — sehingga rasa kenyang lebih mudah tercapai tanpa surplus energi.
7. Pola Makan Nabati
Diet vegetarian dan vegan umumnya rendah lemak jenuh dan tinggi serat, dua faktor yang mendukung penurunan berat badan secara bertahap. Namun satu hal yang perlu diperhatikan: kualitas makanan tetap penting.
Produk olahan berbasis nabati yang tinggi kalori tetap bisa menghambat hasil, meski berlabel plant-based.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.





