Lifestyle

Boundary Setting WFH untuk Ibu Bekerja agar Terhindar dari Burnout

9
×

Boundary Setting WFH untuk Ibu Bekerja agar Terhindar dari Burnout

Sebarkan artikel ini
Ibu bekerja rentan burnout saat WFH Jumat ASN. Psikolog Clement dari Indopsycare bagikan 4 strategi boundary setting untuk jaga kesehatan mental tetap stabil.
Ibu bekerja rentan burnout saat WFH Jumat ASN. Psikolog Clement dari Indopsycare bagikan 4 strategi boundary setting untuk jaga kesehatan mental tetap stabil.

4 Strategi Psikolog Cegah Burnout Ibu Bekerja Saat WFH Jumat ASN

XJABAR.COM – Kebijakan WFH setiap Jumat untuk ASN sejak April membawa tantangan khusus bagi ibu bekerja: batas antara peran profesional dan domestik runtuh total, membuat rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat berubah menjadi arena multitasking ekstrem.

Ketika Rumah Bukan Lagi Tempat Berlindung

Di kantor, batas fisik antara peran sebagai ibu dan pegawai masih terjaga. Begitu masuk gedung, otak beralih ke mode kerja. Begitu keluar, ada jeda perjalanan pulang yang — tanpa disadari — berfungsi sebagai transisi psikologis.

WFH menghapus semua itu sekaligus.

Urusan cucian kotor, anak yang rewel, dan notifikasi atasan berdering pada saat yang bersamaan. Kondisi tumpang tindih antara ranah pribadi dan profesional ini sangat rentan memicu kelelahan fisik maupun mental secara akumulatif.

Psikolog Klinis dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, menyebut boundary setting yang konkret dan realistis sebagai kunci utama agar kesehatan mental ibu bekerja tetap terjaga selama rutinitas WFH Jumat berlangsung.

1. Ciptakan Area Khusus Kerja di Rumah

Langkah pertama adalah mengatur batasan ruang secara fisik. Bagi ibu yang tidak memiliki ruang kerja privat, Clement menyarankan solusi pragmatis yang bisa diterapkan di rumah dengan luas terbatas sekalipun.

“Kalau kita enggak punya ruang kerja, misalnya, kita bisa memilih lokasi khusus. Di sudut kiri ruangan kita misalnya itu ada meja, maka di meja itulah kita harus melakukan pekerjaan kita,” kata Clement saat dihubungi pada Selasa (5/5/2026).

Prinsip di balik saran ini bersifat neurologis: otak manusia belajar mengasosiasikan lingkungan fisik dengan jenis aktivitas tertentu. Semakin konsisten kamu bekerja di titik yang sama, semakin cepat otak beralih ke mode fokus saat duduk di sana.

Konsekuensinya, hindari menggunakan area kerja tersebut untuk aktivitas hiburan seperti menonton atau bermain media sosial. Campur aduk fungsi ruang akan melemahkan asosiasi yang sedang dibangun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *