Lifestyle

Boundary Setting WFH untuk Ibu Bekerja agar Terhindar dari Burnout

13
×

Boundary Setting WFH untuk Ibu Bekerja agar Terhindar dari Burnout

Sebarkan artikel ini
Ibu bekerja rentan burnout saat WFH Jumat ASN. Psikolog Clement dari Indopsycare bagikan 4 strategi boundary setting untuk jaga kesehatan mental tetap stabil.
Ibu bekerja rentan burnout saat WFH Jumat ASN. Psikolog Clement dari Indopsycare bagikan 4 strategi boundary setting untuk jaga kesehatan mental tetap stabil.

2. Terapkan Disiplin Jam Kerja, Tolak Budaya Always-On

Selain batasan ruang, batasan waktu sama pentingnya — dan justru lebih mudah dilanggar.

WFH berpotensi menciptakan fenomena always-on: rasa wajib selalu siaga merespons atasan atau rekan kerja meski jam kantor sudah usai. Bagi ASN yang menjalankan WFH Jumat, tekanan ini sering kali terasa lebih besar karena persepsi bahwa bekerja dari rumah “lebih santai” sehingga harus dikompensasi dengan ketersediaan yang lebih tinggi.

Clement menegaskan bahwa batas waktu harus dijaga dengan tegas.

“Kalau kita terus-menerus membalas chat atau membalas telepon di luar jam yang telah kita tentukan untuk bekerja, maka itu akan memberikan tanda buat orang lain bahwa di luar jam segini boleh aja diganggu,” jelasnya.

Tetapkan jam kerja yang spesifik — misalnya pukul 09.00 hingga 17.00 — dan berani tolak komunikasi pekerjaan di luar rentang tersebut. Ini bukan ketidakprofesionalan. Ini perlindungan terhadap hak istirahat yang sah.

3. Delegasikan Tugas Domestik, Jangan Tanggung Semua Sendiri

Ibu bekerja yang menjalani WFH sering kali terjebak dalam skenario yang melelahkan: selesai rapat online, langsung menyapu, memasak, lalu mengantar anak les. Semua dalam satu hari yang sama.

Clement mengingatkan bahwa pekerjaan rumah tangga bukan aktivitas pasif. Ia adalah beban kerja nyata.

“Menurutku tugas-tugas domestik itu, seolah-olah rumah itu kan, buat ibu yang bekerja, ‘Jadinya saya bekerja juga (sebagai pegawai), dan di sisi lain juga saya bekerja juga sebagai ibu’. Kebayang enggak sih jadi double-double?” tuturnya.

Solusinya bukan bekerja lebih keras, melainkan lebih cerdas dalam berbagi beban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *