Lifestyle

Boundary Setting WFH untuk Ibu Bekerja agar Terhindar dari Burnout

12
×

Boundary Setting WFH untuk Ibu Bekerja agar Terhindar dari Burnout

Sebarkan artikel ini
Ibu bekerja rentan burnout saat WFH Jumat ASN. Psikolog Clement dari Indopsycare bagikan 4 strategi boundary setting untuk jaga kesehatan mental tetap stabil.
Ibu bekerja rentan burnout saat WFH Jumat ASN. Psikolog Clement dari Indopsycare bagikan 4 strategi boundary setting untuk jaga kesehatan mental tetap stabil.

“Kita bagilah tugas-tugas di rumah ini dengan anak-anak kita atau dengan suami kita. Para ibu bisa meng-encourage anak-anak untuk membereskan mainannya sendiri atau mencuci piringnya sendiri,” saran Clement.

Pelibatan anak dalam pekerjaan rumah yang sesuai usia bukan hanya meringankan ibu — ia juga mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab sejak dini.

4. Beri Jeda Transisi Sebelum Beralih ke Urusan Rumah

Satu kebiasaan kecil yang sering diremehkan: langsung beranjak ke tumpukan cucian kotor begitu laptop ditutup.

Tanpa jeda, otak tidak sempat keluar dari mode kerja sebelum masuk ke mode domestik. Hasilnya bukan produktivitas ganda — melainkan kelelahan berlapis yang menumpuk sepanjang hari dan meledak sebagai emosi negatif di penghujung malam.

Waktu tempuh pulang yang biasa didapatkan saat kerja dari kantor — meski terasa menjengkelkan — sebenarnya berfungsi sebagai penyangga psikologis. WFH menghilangkan penyangga itu, dan ibu bekerja perlu menciptakannya secara sadar.

Clement menyarankan waktu transisi sekitar 30 menit: peregangan ringan, tidur sejenak, menonton satu episode serial pendek, atau sekadar duduk melihat langit sore.

“Paling tidak relaksasi dulu, ada transisi, baru kita ngerjain tugas domestik kita,” pungkasnya.

Langkah sederhana ini cukup untuk memutus ketegangan kerja dan membantu ibu memasuki rutinitas domestik dengan kapasitas emosional yang lebih utuh.

Artikel ini memuat informasi dari psikolog klinis dan disajikan untuk tujuan edukasi. Jika Anda mengalami gejala kelelahan mental yang berat atau berkelanjutan, disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *