“Ketika masyarakat yang menjaga lingkungan justru kehilangan ruang sosialnya, maka yang dipertaruhkan bukan hanya sampah, tetapi juga hubungan antara pembangunan, masyarakat, dan lingkungan hidup,” ujar Haris, Sabtu 23 Mei 2026.
Selama bertahun-tahun, warga RW 17 Jati Baru dikenal aktif membangun sistem pengelolaan sampah secara swadaya. Program tersebut bahkan sempat menarik perhatian berbagai pihak dan menjadi lokasi studi banding hingga tingkat ASEAN dan internasional.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan sampah mulai mengalami penurunan. Sejumlah fasilitas pengolahan rusak, pengawasan melemah, dan kesadaran warga terhadap disiplin lingkungan ikut menurun. Dampaknya, muncul pencemaran dan keluhan dari masyarakat sekitar.
Sejak kepengurusan RW baru dilantik pada 27 Maret 2026, upaya pembenahan mulai dilakukan. Pengurus melakukan penataan sistem pengangkutan sampah, meningkatkan partisipasi warga, serta mengevaluasi fasilitas pengolahan yang dinilai sudah tidak layak digunakan.





