Di satu sisi, teknologi AI dapat membantu mengurangi stres ketika digunakan untuk menangani tugas-tugas rutin yang repetitif.
Dengan bantuan otomatisasi, pekerja dapat menghemat waktu dan energi dalam menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya memerlukan proses manual.
Namun di sisi lain, penggunaan AI secara berlebihan justru dapat meningkatkan tekanan mental.
Hal ini terjadi ketika pekerja harus mengelola banyak alat AI sekaligus atau berpindah-pindah antara berbagai platform berbasis AI dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut dapat menciptakan beban kognitif yang tinggi karena pekerja harus terus memantau, mengevaluasi, dan memverifikasi hasil kerja yang dihasilkan oleh mesin.
Informasi Berlebihan Memicu “Mental Fog”
Banyak responden dalam penelitian tersebut menggambarkan pengalaman brain fry sebagai kondisi seperti “kabut mental” atau mental fog.
Perasaan tersebut sering diibaratkan seperti membuka terlalu banyak tab browser dalam satu waktu.
Ketika terlalu banyak informasi harus diproses sekaligus, kemampuan otak untuk fokus dan mengambil keputusan dapat menurun.
Fenomena ini juga berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan untuk memeriksa ulang hasil kerja AI.
Karena teknologi AI tidak selalu menghasilkan output yang sempurna, pekerja sering kali harus memverifikasi hasil tersebut sebelum digunakan.
Proses ini dapat menambah beban kerja kognitif yang sebelumnya tidak ada dalam sistem kerja tradisional.
Pengalaman Praktis Pengguna AI di Dunia Kerja
Tekanan Mental Akibat Perpindahan Tugas Cepat
Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Jack Downey, Head of Strategy, Operations and Product di Webster Pass Consulting.
Downey menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam pekerjaan sehari-hari sering kali memaksa pekerja untuk berpindah fokus secara terus-menerus.
Ia menggambarkan bahwa beberapa tugas yang melibatkan AI dapat selesai hanya dalam beberapa detik, sementara tugas lainnya membutuhkan waktu lebih lama.
Perbedaan waktu tersebut membuat pekerja sering harus menunggu hasil, kemudian beralih ke tugas lain, lalu kembali memeriksa hasil sebelumnya.
Proses multitasking semacam ini dapat memicu tekanan mental karena otak harus terus beradaptasi dengan perubahan fokus yang cepat.
Dampak Brain Fry terhadap Kinerja Pekerja
Meningkatkan Risiko Kesalahan Kerja
Penelitian juga menemukan bahwa pekerja yang mengalami brain fry lebih rentan melakukan kesalahan dalam pekerjaan.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.




