Selain itu, bantuan kebutuhan dasar juga mulai disalurkan untuk memastikan korban tetap bisa bertahan di tengah situasi sulit.
Langkah ini menjadi penegas bahwa empati bukan sekadar wacana. Di tengah kerasnya realitas, masih ada kepedulian yang bekerja diam-diam, tapi berdampak besar.
Di antara sisa abu dan puing yang berserakan, satu hal belum ikut hangus: harapan. Dan hari itu, harapan itu datang bersama uluran tangan.***





